Connie Rahakundini Bakrie, seorang pengamat militer dan pertahanan, baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Dengan nilai tukar rupiah yang telah melampaui Rp17 ribu per dolar AS, ia menilai kondisi perekonomian Indonesia berada dalam situasi yang kritis.
Kondisi Ekonomi yang Memprihatinkan
Dalam potongan video yang dirilis pada 10 Maret 2026, Connie menjelaskan, "Kondisi ini (nilai tukar rupiah menjadi 17 ribu per dolar AS) artinya Indonesia sedang tidak baik-baik saja, dan kita seperti sedang membawa diri ke dalam jurang."
Dia mencatat, perekonomian Indonesia menghadapi tantangan signifikan, terutama berkat keanggotaan negara ini dalam Board of Peace (BoP) yang dikendalikan oleh Amerika Serikat.
Connie menegaskan bahwa gejolak di Timur Tengah berpotensi berdampak pada nilai tukar rupiah serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Ancaman Nilai Tukar Rupiah yang Meningkat
Dia mengingatkan akan kemungkinan bencana ekonomi jika nilai tukar rupiah mencapai Rp22 ribu per dolar AS. "Ketika seandainya Rupiah mencapai 22 ribu (per 1 dolar AS) dan itu tidak bisa kita tahan, maka Indonesia akan selesai," ujarnya.
Lonjakan nilai tukar dolar, menurutnya, dapat memicu krisis yang lebih dalam, yang dapat mengancam eksistensi negara.
Connie juga menyatakan bahwa situasi ini harus menjadi perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Upaya Mencegah Krisis Ekonomi
Connie mengakui bahwa dia telah melakukan perbincangan dengan mantan menteri keuangan dan mantan Gubernur Bank Indonesia untuk membahas tantangan ini.
Diskusi tersebut bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah pencegahan agar rupiah tidak semakin melemah di masa depan.
Dia menegaskan bahwa komitmennya untuk menjaga stabilitas Indonesia sangat penting di tengah ancaman tersebut.
Baca juga: Direktur Lokataru Foundation Ditangkap Terkait Dugaan Penghasutan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: