Kapal Musaffah 2 mengalami ledakan yang mengakibatkan satu nakhoda warga negara Indonesia (WNI) selamat dan mengalami luka bakar, sementara tiga lainnya dinyatakan hilang.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab, Yudha Nugraha, mengungkapkan bahwa korban yang selamat kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Oman.
Kronologi Kejadian
Ledakan kapal Musaffah 2 terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026, saat kapal tersebut bersiap untuk menarik kapal kontainer yang mengalami kerusakan. Menurut Yudha Nugraha, kejadian berlangsung sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat di area yang gelap.
Kapal Musaffah 2 memiliki tujuh anak buah kapal, di mana empat di antaranya adalah WNI. Informasi dari Kementerian Luar Negeri menyebutkan, insiden ini dilaporkan oleh saksi mata sekitar pukul 09.00 pagi setelah melihat langsung kejadian tersebut.
Saksi mata menyatakan bahwa kapal tugboat tersebut berangkat dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, dan tiba di lokasi tanpa ada tanda-tanda mencurigakan sebelum ledakan terjadi.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation di Tengah Demo Pelajar
Status Terkini Korban
Menurut Yudha Nugraha, ABK yang selamat mengalami luka bakar pada 20 persen tubuhnya dan saat ini dirawat intensif di rumah sakit di Kota Khasab. Rumah sakit tersebut berlokasi dekat dengan tempat kejadian.
Duta Besar menginformasikan bahwa pencarian tiga ABK yang hilang masih terus berlangsung. Proses pencarian didukung oleh otoritas setempat dan pihak berwenang lainnya.
KBRI juga berkoordinasi dengan keluarga korban untuk memberikan informasi terbaru dan dukungan yang diperlukan.
Investigasi dan Spekulasi
Hingga saat ini, pihak KBRI UEA belum dapat memastikan penyebab pasti dari ledakan kapal Musaffah 2. Yudha menekankan pentingnya menunggu hasil penyelidikan resmi dari otoritas terkait sebelum membuat spekulasi.
Duta Besar juga mengingatkan bahwa mengaitkan kejadian ini dengan situasi politik yang lebih luas di Timur Tengah adalah prematur, terutama mengingat kemungkinan risiko yang dihadapi di Selat Hormuz.
Ia menambahkan, pemantauan situasi akan terus dilakukan, sembari berharap keselamatan semua kru kapal akan segera terungkap.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: