Quarter life crisis menjadi topik hangat di kalangan individu berusia 20-an hingga awal 30-an, yang sering kali menghadapi kebingungan dan ketidakpuasan hidup.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Gejala yang muncul, seperti kecemasan dan ketidakpastian karir, dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami fase ini dan perlu diwaspadai.
Gejala Quarter Life Crisis
Salah satu gejala paling umum dari quarter life crisis adalah rasa cemas yang berlebihan tentang masa depan. Banyak individu merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak memuaskan serta meragukan pilihan hidup mereka.
Perubahan emosi yang drastis sering kali terjadi, seperti kebingungan atau rasa putus asa. Beberapa orang mungkin merasa tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, yang dapat berkontribusi pada perasaan terasing dari lingkungan sosial.
Kesulitan dalam mengambil keputusan adalah tanda lain yang umum muncul. Hal ini kerap menyebabkan tekanan mental yang dapat berdampak negatif pada kualitas hidup seseorang jika tidak tertangani dengan baik.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar
Penyebab Quarter Life Crisis
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab quarter life crisis, salah satunya adalah tekanan sosial yang dialami individu. Kehidupan di era media sosial membuat banyak orang merasa harus mencapai standar tertentu yang seringkali tidak realistis.
Kondisi ekonomi juga memegang peranan penting. Banyak lulusan muda merasa kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga meningkatkan rasa putus asa mereka.
Selain itu, ekspektasi yang terlalu tinggi dari diri sendiri maupun orang lain dapat menambah beban mental yang sudah ada. Situasi ini seringkali mengarah pada perasaan hampa dan tidak mampu memenuhi semua harapan tersebut.
Cara Mengatasi Quarter Life Crisis
Mengatasi quarter life crisis memang bukan hal yang mudah, namun ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menghadapi situasi ini. Pertama, penting untuk mengenali dan menerima perasaan yang muncul sebagai bagian dari proses.
Selanjutnya, berfokus pada tujuan pribadi dapat membantu seseorang merasa lebih berdaya. Menyusun daftar keinginan dan langkah-langkah untuk mencapainya bisa jadi langkah awal yang baik.
Berbicara dengan profesional, seperti psikolog atau konselor, juga merupakan pilihan yang tepat. Mereka dapat menawarkan perspektif serta dukungan yang memang dibutuhkan saat menghadapi masa-masa sulit.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Usai Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: