Sejarah Indonesia mencatat banyak kerajaan yang pernah berdiri megah, namun banyak di antaranya runtuh karena konflik internal. Fenomena ini menjadi cermin penting bagi kita tentang dampak dari perselisihan yang terjadi di dalam sebuah kekuasaan.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Keruntuhan tersebut tidak hanya disebabkan oleh invasi dari luar, tetapi juga oleh masalah yang terpendam dalam tubuh kerajaan sendiri. Berikut ini adalah beberapa contoh kerajaan yang mengalami nasib tersebut.
Kerajaan Majapahit dan Perpecahan Internal
Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Namun, setelah masa kejayaan Hayam Wuruk, muncul konflik internal di antara para bangsawan.
Perpecahan yang terjadi antara golongan istana dan pihak yang merasa terpinggirkan melemahkan kekuasaan Majapahit. Ketika kepemimpinan tak jelas, banyak daerah memilih untuk memisahkan diri.
Masalah suksesi yang tidak teratur semakin memperburuk keadaan, membuat Majapahit mengalami kemunduran signifikan. Pada akhirnya, kerajaan ini terpaksa menghadapi invasi dari kerajaan lain.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Provokasi Massa
Kerajaan Sriwijaya dan Rivalitas Antar Bangsawan
Sriwijaya dikenal sebagai pusat perdagangan dan pendidikan, namun rivalitas antar bangsawan di dalamnya menimbulkan konflik berkepanjangan. Ketidakpuasan atas distribusi kekuasaan dan keuntungan ekonomi yang tidak merata menjadi akar dari banyak permasalahan.
Keterbatasan sumber daya sering memperparah ketegangan ini. Akibatnya, banyak daerah berpindah kesetiaan, sehingga Sriwijaya kehilangan kendali atas wilayah strategis.
Keadaan ini membuat Sriwijaya semakin rentan terhadap serangan luar, hingga akhirnya mengalami kejatuhan.
Kerajaan Mataram dan Perselisihan Keluarga
Mataram memiliki sejarah panjang penuh perselisihan internal, terutama di antara anggota keluarga. Perebutan tampuk kepemimpinan menjadi sangat signifikan di sini, dengan konflik antara dua pangeran bersaudara yang memperburuk situasi.
Ketegangan ini berkisar pada suksesi dan keinginan masing-masing pihak untuk menguasai posisi yang diinginkan. Akibatnya, Mataram mengalami periode instabilitas yang parah.
Dengan keadaan yang lemah, kerajaan-kerajaan di sekitarnya mulai melakukan invasi, merusak tatanan yang telah ada sebelumnya.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Usai Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: