Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya pemahaman sejarah sebagai dasar bagi para pemimpin di Indonesia dalam menghadapi tantangan bangsa yang beragam. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 di Sentul, Bogor.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Dalam pidatonya, Prabowo juga menggarisbawahi keraguan yang ada terhadap eksistensi Indonesia sebagai negara kesatuan, sekaligus menyerukan komitmen para pemimpin untuk memenuhi harapan rakyat akan kehidupan yang damai dan harmonis.
Kepemimpinan Berbasis Sejarah
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa kepemimpinan harus berakar pada pemahaman sejarah sebagai fondasi bagi pengabdian kepada rakyat. Dalam konteks ini, pemimpin di semua tingkatan diingatkan untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.
Ia menjelaskan bahwa keraguan mengenai Indonesia sebagai negara kesatuan muncul dari banyaknya perbedaan etnis, ras, agama, dan bahasa. Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa Indonesia tetap eksis sebagai negara yang utuh.
Prabowo mengatakan, 'Banyak yang mengatakan Indonesia tidak mungkin, an impossible nation,' menandakan kebutuhan untuk menyatukan berbagai kelompok etnis dan budaya di dalam satu visi yang sama.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Demo Ricuh di Jakarta
Harapan Rakyat Terhadap Pemimpin
Dalam pidatonya, Prabowo menggarisbawahi harapan rakyat yang mendambakan pemimpin yang adil dan bekerja untuk kepentingan umum, bukan untuk kelompok tertentu. Pemimpin, menurutnya, harus memiliki integritas dan dapat diandalkan.
Ia juga menegaskan bahwa rakyat menginginkan kehidupan yang damai dan harmonis, serta berharap para pemimpin menyadari tanggung jawab mereka dalam memenuhi harapan tersebut.
Prabowo menekankan, 'Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah,' menunjukkan pentingnya pembelajaran dari pengalaman masa lalu dalam menjalankan kepemimpinan yang baik.
Dinamika Global dan Tanggung Jawab Negara
Dalam diskusi mengenai dinamika global, Prabowo membahas kontradiksi yang terjadi di sejumlah negara besar yang dianggap menjunjung nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Ia menyoroti bahwa banyak tragedi kemanusiaan terjadi tanpa aksi nyata dari negara-negara yang mengklaim memperjuangkan nilai-nilai tersebut.
Dengan tegas ia menyatakan, 'Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai,' mengkritik ketidakberdayaan sebagian besar negara dalam merespons krisis tersebut.
Prabowo berpendapat bahwa pemimpin di Indonesia harus peka terhadap situasi global dan tidak boleh abai terhadap dinamika yang terjadi, serta harus mengambil pelajaran dari sejarah untuk menjaga stabilitas dalam negeri.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation di Tengah Demo Pelajar
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: