Senin, 02 FEBRUARI 2026 • 16:50 WIB

NASA Temukan Asal Air di Bumi Mungkin Berbeda dari Teori Lama

Author

NASA Temukan Asal Air di Bumi Mungkin Berbeda dari Teori Lama

Studi terbaru yang dilakukan oleh NASA membuka wawasan baru tentang bagaimana air sampai di Bumi. Para ilmuwan mengungkapkan, air mungkin tidak berasal dari meteor seperti yang sebelumnya diyakini.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Penelitian mendalam yang menganalisa sampel Bulan mengindikasikan bahwa hanya satu persen material dari meteorit dapat ditemukan di permukaan Bulan, jauh dari estimasi yang selama ini beredar.

Teori Baru tentang Asal Usul Air di Bumi

Teori yang telah lama ada menyatakan bahwa air di Bumi terbentuk akibat tumbukan meteorit yang kaya air. Namun, temuan terbaru dari NASA menunjukkan bahwa peran meteorit dalam penyediaan air jauh lebih kecil daripada yang diperkirakan.

Dari analisis isotop oksigen dalam regolit Bulan, para peneliti menyimpulkan bahwa material dari meteorit hanya berkontribusi sekitar satu persen. Ini memunculkan pertanyaan tentang apakah ada sumber lain yang berkontribusi terhadap keberadaan air di Bumi.

Ketidakmampuan untuk melacak jejak benturan kuno di Bumi disebabkan oleh proses geologi dan cuaca yang terus mengubah permukaan. Sebaliknya, Bulan yang minim aktivitas geologis memberikan catatan sejarah benturan yang lebih jelas.

Baca juga: Kritik Penangkapan Direktur Lokataru Foundation: Tindakan Sewenang-wenang atau Perlindungan Kebebasan Berpendapat?

Metodologi dan Temuan Penelitian

Dalam penelitian ini, para ilmuwan NASA menggunakan analisis isotop oksigen presisi tinggi untuk mengevaluasi kontribusi meteorit terhadap keberadaan air. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun meteorit membawa air, kontribusinya tidak cukup signifikan untuk menjelaskan total air di Bumi.

Justin Simon, ilmuwan planet di NASA Johnson Space Center, menegaskan, "Hasil studi kami menunjukkan bahwa meskipun meteorit memang membawa air, jumlahnya tidak cukup untuk menjelaskan seluruh air yang ada di Bumi."

Menganalisis benturan yang terjadi seiring waktu, menarik diperhatikan bahwa sebagian besar air mungkin berasal dari proses yang berlangsung selama pembentukan planet atau interaksi kimia yang belum sepenuhnya dipahami.

Peran Bulan sebagai Kapsul Waktu

Tony Gargano, peneliti utama studi ini, menjelaskan bahwa Bulan berfungsi sebagai "kapsul waktu" yang krusial untuk memahami sejarah air di Bumi. "Bulan memberi kita catatan benturan yang tidak bisa kita temukan lagi di Bumi," ungkapnya.

Temuan ini memperkuat pencarian jawaban atas pertanyaan mendasar tentang asal-usul air yang mendukung kehidupan di Bumi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian besar air mungkin sudah ada sejak awal pembentukan Tata Surya.

Meskipun meteorit tetap berkontribusi, penelitian ini mengindikasikan bahwa pandangan kita harus diperbaharui mengenai proporsi mereka dalam penyediaan air bagi Bumi.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni Berlanjut

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU