Temuan Gas Raksasa di Kalimantan: Mengguncang Sumber Daya Energi Indonesia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan kabar menggembirakan mengenai penemuan cadangan gas raksasa oleh perusahaan Eni dari Italia di Kalimantan.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Dari sumur eksplorasi Geliga-1 yang terletak di Cekungan Kutai, estimasi potensi awal mencapai 5 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat.
Bahlil menekankan bahwa temuan ini memiliki potensi luar biasa. "Saya mau umumkan bahwa Eni baru saja mendapat 1 wk baru giant dari Geliga yang menghasilkan 5 TCF untuk gas dan kita mendapat kondensat 300 juta barel minyak," ungkap Bahlil.
Saat ini, produksi gas di lokasi Geliga-1 berada di kisaran 600-700 juta kaki kubik per hari. Namun, diproyeksikan produksi gas dapat meningkat menjadi sekitar 2.000 MMSCFD pada tahun 2028.
Lebih lanjut, pada tahun 2030, produksi gas diperkirakan akan meningkat lagi hingga mencapai sekitar 3.000 MMSCFD. Pengembangan produksi kondensat pun diharapkan dapat dimulai seiring dengan kenaikan produksi gas.
Sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter, dengan kedalaman laut sekitar 2.000 meter. Penemuan ini menjadi bagian dari rekam jejak eksplorasi yang sangat sukses bagi Eni di Cekungan Kutai.
Lokasi Geliga-1 hanya sekitar 20 km dari Geng North, yang menunjukkan potensi besar di kawasan tersebut. Temuan ini memperkuat keyakinan akan skalabilitas sumber daya gas yang ada.
Di samping itu, terdapat juga gas Gula yang belum dikembangkan dengan potensi 2 TCF gas dan 75 juta barel kondensat, meningkatkan kapasitas pengembangan sumber daya di kawasan ini.
Pada Maret 2026, Eni melakukan Final Investment Decision (FID) untuk sebuah proyek gas laut dalam sebesar US$ 15 miliar. Keputusan ini menunjukkan komitmen Eni dalam pengembangan proyek gas di Indonesia.
Proyek tersebut mencakup pengembangan dua ladang besar, yaitu Gendalo-Gandang (South Hub) dan Geng North-Gehem (North Hub). Dengan investasi ini, Eni bertujuan untuk memanfaatkan teknologi produksi laut dalam yang efisien.
Proyek North Hub juga akan menggunakan fasilitas produksi terapung (FPSO) yang baru, dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari.
Baca juga: Apple Siap Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: