Kematian Tragis Karyawan Muda di Korea Selatan: Tanda Bahaya Kerja Berlebihan
Seorang karyawan berusia 26 tahun ditemukan meninggal setelah bekerja hampir 80 jam dalam seminggu di sebuah toko roti di Korea Selatan. Kasus ini memicu perdebatan mengenai praktik kerja ekstrem yang dapat membahayakan kesehatan.
Partai Keadilan menyoroti bahwa kematian ini mencerminkan isu serius terkait overwork yang mulai meresahkan masyarakat. Isu ini semakin mendesak untuk dibahas mengingat dampaknya bagi kesehatan pekerja.
Karyawan tersebut meninggal pada bulan Juli 2025 setelah 14 bulan bekerja di perusahaan tersebut. Selama periode itu, dia dilaporkan bekerja antara 58 hingga 80 jam seminggu.
Partai Keadilan mengungkapkan bahwa sehari sebelum kematiannya, pekerja tersebut telah tercatat bekerja hingga 21 jam dalam sehari. 'Sehari sebelum kematiannya, pekerja tersebut tiba pukul 9 pagi dan pulang tepat sebelum tengah malam,' jelas pernyataan dari partai tersebut.
Keluarga yang berduka telah mengajukan permohonan kompensasi kecelakaan kerja, tetapi pengelola tempat kerja menolak memberikan dokumentasi yang dibutuhkan terkait jam kerja karyawan.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Usai Kontroversi Video Parodi
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa karyawan tersebut mungkin mengalami kerja berlebihan yang kronis dan akut, yang merupakan faktor penyebab utama kematiannya. Ini menjadi perhatian besar berbagai pihak terkait kondisi kesehatan para pekerja.
Selama 14 bulan kerja, karyawan ini berpindah lokasi antara Gangnam, Suwon, dan Incheon dengan setiap kepindahan diiringi kontrak baru. Praktik ini hanya menambah beban psikologis yang dihadapi oleh pekerja.
Keluarga korban melaporkan bahwa pengelola perusahaan tetap bersikeras dengan catatan jam kerja yang berbeda dan menegaskan bahwa catatan mereka tidak sesuai dengan klaim yang diajukan oleh keluarga.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan bahwa pekerjaan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kematian akibat stroke dan penyakit jantung. Ini menjadi alasan kuat untuk memikirkan kembali praktik kerja yang ada saat ini.
Jam kerja rata-rata yang sehat adalah sekitar 35 hingga 40 jam per minggu. Namun, jika bekerja hingga 55 jam, risiko stroke dapat meningkat hingga 35 persen dan risiko penyakit jantung iskemik sekitar 17 persen.
'Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan risiko stroke atau penyakit jantung,' tegas Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan bahaya dari perilaku kerja berisiko tinggi ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: