Investigasi Awal Kecelakaan Pesawat ATR 42-500: ELT Diduga Tidak Berfungsi
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memberikan informasi awal mengenai kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan yang diduga menabrak gunung. Hal ini berdampak pada tidak berfungsinya alat Emergency Locator Transmitter (ELT).
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa dalam kondisi tabrakan, ELT biasanya tidak berfungsi, sehingga pencarian korban harus dilakukan secara manual.
Emergency Locator Transmitter (ELT) memiliki fungsi vital dalam keselamatan penerbangan. Alat ini dirancang untuk mengirimkan sinyal darurat yang membantu tim pencarian menemukan lokasi jatuhnya pesawat.
Dalam kasus pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan, KNKT mencurigai kerusakan pada ELT akibat tabrakan dengan gunung. Soerjanto Tjahjono menegaskan, 'kalau dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga.'
Karena tidak berfungsinya ELT, tim SAR dihadapkan pada tantangan besar untuk melakukan pencarian secara manual. Lokasi jatuh yang belum diketahui tentu mempersulit proses evakuasi.
Di sisi lain, Soerjanto menyampaikan harapan untuk segera menemukan blackbox, yang berisi rekaman penerbangan dan data teknis pesawat. 'Kami sangat berharap juga ditemukan blackbox-nya,' ungkapnya, menekankan pentingnya data tersebut dalam investigasi.
Saat ini, fokus tim SAR adalah menemukan lokasi jatuhnya pesawat sebelum melanjutkan evakuasi terhadap korban. Keberadaan blackbox yang tersisa menjadi krusial untuk memahami penyebab kecelakaan.
KNKT pun terus memantau perkembangan operasi pencarian dan mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya berdasarkan informasi yang diperoleh dari lokasi.
Baca juga: Aliansi BEM SI Siapkan Aksi Unjuk Rasa Besar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: