Sebuah penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kanker payudara menjadi penyebab utama diagnosis penyakit di kalangan perempuan di seluruh dunia, dengan proyeksi jumlah kasus meningkat hingga 3,5 juta pada tahun 2050.
Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Studi ini juga mengungkap disparitas signifikan dalam angka kematian akibat kanker payudara, terutama antara negara berpendapatan tinggi dan rendah.
Tren Global Kanker Payudara
Berdasarkan laporan dari CNN, sekitar 2,3 juta perempuan terdiagnosis kanker payudara di tahun 2023, dengan 764.000 kematian sebagai akibat penyakit ini.
Kanker payudara kini menyumbang hampir 25% dari semua diagnosis kanker pada perempuan di seluruh dunia. Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal The Lancet Oncology, menggambarkan kekhawatiran terkait masa depan sistem kesehatan global.
Melihat data yang ada, negara berpendapatan tinggi mengalami penurunan hampir 30% dalam angka kematian akibat kanker payudara dari tahun 1990 hingga 2023, yang berkaitan dengan meningkatnya investasi dalam skrining dan pengobatan.
Disparitas Angka Kematian
Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, terjadi peningkatan angka kematian akibat kanker payudara yang hampir dua kali lipat dalam periode yang sama, dengan jumlah diagnosis meningkat sekitar 147%.
Dr. Lisa Force, penulis senior studi, menjelaskan, 'Ada perbaikan dalam angka kematian seiring waktu di negara-negara berpendapatan tinggi, tetapi benar-benar terdapat ketimpangan dalam kemajuan dan peningkatan angka kematian di beberapa negara berpendapatan rendah.'
Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap perawatan kanker payudara dan upaya pencegahan masih sangat tidak merata secara global, menimbulkan masalah besar bagi sistem kesehatan di negara berkembang.
Kondisi di Afrika Sub-Sahara
Kondisi di Afrika Sub-Sahara memperlihatkan situasi yang sangat mencemaskan, dengan angka kematian di kawasan ini lebih dari dua kali lipat dari rata-rata global, mencapai sekitar 35 kematian per 100.000 orang setiap tahunnya.
Dr. Kamal Menghrajani, seorang onkolog, menambahkan, 'Hasil yang dialami seseorang akibat kanker bergantung pada negara tempat mereka tinggal. Dan seharusnya tidak demikian.'
Peningkatan angka kematian di wilayah ini menjadi perhatian utama, terutama karena tantangan dalam akses terhadap perawatan medis yang memadai masih menjadi kendala besar.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: