Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara terparah yang merasakan dampak dari panas ekstrem akibat perubahan iklim, menurut sebuah studi recent dari University of Oxford.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Studi ini memperingatkan bahwa efek ini akan semakin nyata jika suhu global melebihi batas 1,5 derajat Celsius.
Dampak Panas Ekstrem yang Mengancam
Penelitian dari Oxford memperlihatkan bahwa lonjakan suhu tidak hanya akan dialami negara-negara di daerah tropis, tetapi juga wilayah beriklim dingin.
Contoh yang diberikan termasuk Austria dan Kanada yang dapat mengalami dua kali lipat peningkatan hari panas ekstrem jika suhu global mencapai dua derajat Celsius.
Dr. Jesus Lizana, penulis utama studi ini, mengungkapkan bahwa perubahan permintaan pendinginan akan mulai terlihat sebelum ambang batas tersebut, sehingga disarankan untuk melakukan langkah adaptasi secara dini.
Kenaikan suhu ini juga berdampak serius pada kebutuhan pendinginan, yang berarti banyak rumah di Indonesia mungkin perlu instalasi pendingin ruangan dalam lima tahun ke depan.
Risiko bagi Berbagai Sektor
Menurut Radhika Khosla dari Smith School of Enterprise and the Environment, melewati batas suhu 1,5 derajat Celsius dapat memiliki konsekuensi besar terhadap pendidikan, kesehatan, migrasi, dan sektor pertanian.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar
"Pembangunan berkelanjutan dengan target net zero tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren meningkatnya hari-hari panas ekstrem," tegasnya.
Di Indonesia, risiko peningkatan suhu ekstrem akan mempengaruhi produktivitas pertanian dan kesehatan masyarakat.
Penting untuk membangun infrastruktur yang dapat mendukung mitigasi terhadap cuaca ekstrem ini.
Data Terbuka untuk Perencanaan Berkelanjutan
Studi ini juga menawarkan dataset terbuka mengenai kebutuhan pemanasan dan pendinginan global, dengan peta dunia beresolusi sekitar 60 kilometer.
Dataset ini diharapkan menjadi sumber berharga untuk perencanaan pembangunan berkelanjutan dan kebijakan iklim di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dengan adanya data ini, para pemangku kepentingan di Indonesia diharapkan mampu merumuskan kebijakan lebih efektif menghadapi perubahan iklim.
Pemerintah dan organisasi terkait diminta untuk mengevaluasi dan memperbarui strategi adaptasi dan mitigasi yang ada saat ini untuk siap mengatasi tantangan yang mendatang.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: