Senin, 02 FEBRUARI 2026 • 20:57 WIB

Suara Guru Honorer: Keluhan dan Harapan di Ruang Rapat DPR

Author

Suara Guru Honorer: Keluhan dan Harapan di Ruang Rapat DPR

Guru honorer, Indah Permata Sari, berbicara dengan penuh emosi di DPR mengenai kondisi kesejahteraan yang tidak memadai. Ia mengungkapkan perasaannya terpinggirkan dalam sistem pendidikan saat menyampaikan keluhannya di hadapan anggota DPR.

Baca juga: Kritik Penangkapan Direktur Lokataru Foundation: Tindakan Sewenang-wenang atau Perlindungan Kebebasan Berpendapat?

Kejadian ini terjadi di ruang rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR, Jakarta, di mana Indah dan rekan-rekannya menjelaskan kesulitan dalam memenuhi persyaratan administrasi yang menjadi penghalang karier mereka.

Pengalaman Indah Permata Sari di DPR

Indah Permata Sari, yang mengajar di SDN Wanasari 01 Cibitung, menghadiri rapat yang diselenggarakan oleh Baleg DPR. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa namanya tercatat dalam data yang tidak sesuai, yaitu di nomor 265, meskipun ia telah memenuhi syarat kerja.

Ketua Baleg DPR, Bob Hasan, mempertanyakan pengertian mengenai data pendidikan yang merujuk pada Dapodik. Indah menjelaskan, "Dapodik, Pak," sebagai sistem yang menjadi kendala dalam pendaftaran sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K).

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan

Sulitnya Akses Informasi

Indah mengungkapkan bahwa ketidakterdata dalam Dapodik menyulitkan para guru honorer untuk mendapatkan informasi terkait pendaftaran P3K. Hal ini membuat mereka merasa tertinggal dan terancam ketidakpastian pekerjaan.

"Susah sekali, Pak, kadang informasi yang turun dari dinas ke sekolah tidak menyeluruh, Pak, jadinya kita ketinggalan info," jelasnya, mencerminkan kekecewaan atas kurangnya transparansi komunikasi.

Kesejahteraan dan Harapan Guru Honorer

Dalam momen yang mendebarkan, Indah mengekspresikan kesedihannya mengenai kondisi kesejahteraan yang rendah. Ia menceritakan bagaimana dia harus membagi waktu antara mengajar dan bekerja sebagai pengantar laundry, menambah beban emosional yang ia rasakan.

"Karena saya juga, seperti yang tadi bapak bilang, pulang mengajar jadi antar jemput laundry, Pak," imbuhnya sambil menangis, menyerukan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat terhadap nasib guru honorer.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Perampokan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU