Sabtu, 24 JANUARI 2026 • 20:02 WIB

Gubernur Dedi Mulyadi Soroti Krusialnya Konservasi Lahan Pasca Longsor di Bandung Barat

Author

Gubernur Dedi Mulyadi Soroti Krusialnya Konservasi Lahan Pasca Longsor di Bandung Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukan keprihatinannya terhadap alih fungsi lahan yang diduga menjadi penyebab longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Baca juga: Adrian Wibowo: Pemain Indonesia-Amerika Pertama di Major League Soccer

Bencana ini merusak 30 unit rumah dan berdampak pada 113 jiwa dari 34 kepala keluarga di daerah tersebut.

Dampak Longsor dan Penyebabnya

Longsor yang melanda Desa Pasirlangu pada Sabtu, 24 Januari 2026, mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada infrastruktur dan kehidupan penduduk setempat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat melaporkan bahwa bencana ini merusak 30 unit rumah dan lahan pertanian di sekitarnya.

Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa perubahan fungsi lahan, dari hutan menjadi perkebunan sayuran, sangat berkontribusi terhadap peningkatan risiko longsor. "Bisa dilihat, ini daerah kemiringan yang seharusnya ini daerah hutan rimbun berubah menjadi perkebunan sayuran dan pakai plastik," ungkapnya.

Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Demo Ricuh di Jakarta

Pentingnya Vegetasi dalam Konservasi Lahan

Gubernur menekankan bahwa area di kaki Gunung Burangrang perlu dihijaukan dengan vegetasi yang kuat untuk menopang tanah dan mencegah longsor di masa mendatang.

"Sebagian besar lahan yang sudah beralih fungsi ke perkebunan sayur menimbulkan masalah resapan air yang tidak berfungsi secara optimal," ujarnya.

Dedi mengamati, tanah subur di lokasi bencana ini justru memperbesar risiko longsor, berkata, "Kalau lihat ini saya sudah bisa menebak (apa penyebabnya). Tanahnya subur jadi mudah lepas."

Inisiatif Pemulihan oleh Pemprov Jabar

Sebagai respons terhadap kejadian ini, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan berkomitmen untuk menata ulang daerah-daerah yang berisiko bencana.

"Kami ingin daerah-daerah yang rawan ini direlokasi saja. Fungsi-fungsi alam dikembalikan," paparnya.

Ia juga menyoroti bahwa pola tata ruang yang tidak tepat telah menjadi akar dari banyaknya bencana alam di wilayah tersebut, serta menekankan bahwa hutan bambu lebih sesuai digunakan daripada kebun sayur di daerah rawan tersebut.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation di Tengah Demo Pelajar

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU