Di Denmark, uji kompetensi orang tua menjadi syarat wajib bagi mereka yang berstatus sebagai orang tua, berdampak langsung pada nasib anak-anak mereka.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Orang tua Greenland menghadapi tantangan berat, di mana anak-anak mereka berisiko diambil paksa oleh Dinas Sosial jika dinyatakan tidak layak.
Penerapan Uji Kompetensi Orang Tua
Uji kompetensi orang tua, yang dikenal sebagai FKUs, dilaksanakan oleh pemerintah Denmark untuk menilai kelayakan orang tua dalam membesarkan anak. Uji ini melibatkan serangkaian tes psikologis dan wawancara yang ditujukan untuk mendeteksi potensi risiko penelantaran atau kekerasan terhadap anak.
Tes ini termasuk wawancara dengan orang tua dan anak-anak, serta berbagai tes kognitif. Pihak yang mendukung tes ini mengklaim bahwa metode ini menyediakan penilaian objektif ketimbang bukti anekdotal yang sering diberikan oleh pekerja sosial.
Namun, kritik muncul dari kalangan yang menilai bahwa hasil tes tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya seseorang sebagai orang tua.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Usai Kontroversi Video Parodi
Dampak Terhadap Orang Tua Greenland
Orang tua Greenland 5,6 kali lebih mungkin mengalami pengambilan anak paksa dibandingkan orang tua di Denmark. Hal ini melibatkan proses yang panjang dan rumit, di mana banyak orang tua merasa tertekan dan putus asa setelah hasil tes menyatakan ketidaklayakan mereka.
Keira, seorang ibu yang mengalami hal ini, menyaksikan bayinya yang baru lahir terpisah darinya hanya dalam waktu dua jam setelah kelahiran. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sebuah kehilangan yang menyakitkan.
Peneliti menemukan bahwa meski hasil tes tidak memperlihatkan kejelasan dalam kemampuan mendidik, keputusan yang diambil berdasarkan hasil tersebut sering kali bersifat permanen dan merusak ikatan keluarga.
Proses Tinjauan dan Pembaruan Kebijakan
Pemerintah Denmark mengakui akan adanya kritik terhadap penerapan FKUs, namun menyatakan bahwa tinjauan terhadap beberapa kasus yang melibatkan anak-anak Greenland masih berlangsung. Namun, pada kenyataannya, sedikit kasus yang ditinjau kembali.
Meskipun ada upaya untuk merevisi kebijakan, banyak orang tua tetap khawatir akan kemungkinan kehilangan hak atas anak mereka akibat penilaian yang dianggap tidak adil.
Sebagai langkah baru, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengkaji kembali pelaksanaan tes ini khususnya terhadap warga Greenland sehingga adil dan sesuai dengan konteks budaya mereka.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: