Minggu, 16 NOVEMBER 2025 • 09:47 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap Setelah Hujan Berkepanjangan

Author

BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap Setelah Hujan Berkepanjangan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa rangkaian faktor cuaca menjadi penyebab utama longsor di Cilacap, Jawa Tengah, pasca hujan berkepanjangan. Menurut mereka, kondisi tanah yang basah memiliki potensi tinggi memicu pergerakan tanah.

Baca juga: Kritik Penangkapan Direktur Lokataru Foundation: Tindakan Sewenang-wenang atau Perlindungan Kebebasan Berpendapat?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi telah membuat lereng di Kecamatan Majenang menjadi sangat rawan longsor. Hujan lebat pada 10-11 November tercatat mencapai hampir 100 mm per hari.

Rincian Curah Hujan dan Kondisi Tanah

BMKG mencatat hujan tinggi pada 10-11 November dengan angka mencapai 98,4 mm per hari dan 68 mm per hari. Hujan ringan yang mengikuti membuat tanah tetap jenuh air dan berkontribusi pada terjadinya longsor.

Guswanto menekankan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini berkaitan dengan atmosfer yang mendukung hujan lebat. Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan pusaran angin di sekitar wilayah tersebut berperan memperkuat pembentukan awan hujan.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial

Ancaman Hujan Lebat dan Langkah Penanganan

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengingatkan bahwa kelembapan udara yang tinggi juga mendukung potensi hujan lebat. Gimana, hujan sedang hingga lebat diprediksi akan kembali terjadi antara 19-22 November mendatang.

Untuk mengantisipasi bencana lebih lanjut, BMKG berencana melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tri Handoko Seto dari BMKG menyatakan bahwa skema OMC akan dirancang untuk melindungi daerah rawan longsor.

Peringatan untuk Masyarakat dan Koordinasi dari BMKG

BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana. Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Bagus Pramujo, memastikan bahwa BMKG terus memberikan informasi cuaca harian.

BMKG juga mendeteksi Bibit Siklon Tropis 97S dan 98S yang dapat mengakibatkan cuaca ekstrem dalam waktu dekat. Guswanto menegaskan bahwa meskipun peluangnya berkembang menjadi siklon rendah, dampaknya bisa tetap signifikan bagi beberapa wilayah.

Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU