Selasa, 07 OKTOBER 2025 • 16:37 WIB

Menaker Tunjukkan Penyebab Pemutusan Hubungan Kerja di Indonesia: Daya Saing yang Lemah

Author

Menaker Tunjukkan Penyebab Pemutusan Hubungan Kerja di Indonesia: Daya Saing yang Lemah

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan bahwa maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia disebabkan oleh lemahnya daya saing industri nasional.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation di Tengah Demo Pelajar

Ia menegaskan rendahnya produktivitas tenaga kerja sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena ini.

Daya Saing dan Produktivitas sebagai Faktor Utama

Dalam peluncuran Dokumen Master Plan Produktivitas Nasional, Yassierli menjelaskan bahwa produktivitas merupakan pendorong utama daya saing industri. "Produktivitas menjadi pendorong daya saing industri kita. Kalau saya sering sampaikan, salah satu penyebab PHK adalah karena memang daya saing kita yang kurang, resilience (ketangguhan)-nya lemah," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa daya saing sangat dipengaruhi oleh efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki industri. "Faktornya banyak. Maka produktivitas dari industri kita, juga kemampuan kita untuk menggunakan resources (sumber daya) yang tersedia, kemudian menghasilkan produk yang lebih murah, lebih efisien, kemudian berkualitas lebih baik," jelas Yassierli.

Yassierli juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan momen bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia. "Bonus demografi ini harus kita sambut, kita songsong agar memberikan value (nilai) bagi bangsa ini, adalah dengan tenaga kerja yang berkualitas," ungkapnya.

Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan

Kaitan Antara Produktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi

Yassierli menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara produktivitas total faktor (Total Factor Productivity/TFP) dan pertumbuhan ekonomi (GDP). TFP dianggap sebagai pendorong utama yang muncul dari inovasi dan kemajuan teknologi.

"Termasuk juga kemudian Indonesia Emas 2045, ada korelasi antara total factor productivity dengan GDP itu sendiri," tuturnya. Ia menekankan bahwa peningkatan produktivitas nasional perlu menjadi perhatian utama untuk mencapai target tersebut.

Yassierli menepis pandangan bahwa faktor produktivitas tidak relevan, menyebutkan bahwa keberhasilan meningkatkan produktivitas akan berpengaruh besar terhadap keberlangsungan ekonomi nasional di masa depan.

Prediksi Tren PHK di Sektor Pengusaha

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan prediksi bahwa tren PHK akan berlanjut hingga akhir 2025. "Ini memang sudah dirasakan juga dari survei yang dibuat oleh Apindo," ujarnya dalam konferensi pers.

Shinta menegaskan fenomena ini bukan sekadar kejadian musiman, tetapi adalah gejala yang membutuhkan perhatian serius. "Ini bukan hanya sekadar PHK biasa, tapi ini memang PHK sedang benar-benar berjalan dan masih terus bergulir," tambahnya.

Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan sekitar 150 ribu pekerja terkena PHK antara Januari hingga Juni 2025, dengan lebih dari 100 ribu klaim manfaat jaminan. "Angka ini belum termasuk catatan dari Kementerian Ketenagakerjaan," jelasnya.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU