Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia, baru saja tiba di Yunani bersama ratusan relawan Global Sumud Flotilla (GSF) setelah dideportasi oleh Israel ketika berusaha mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Demo Ricuh di Jakarta
Misi ini dianggap mendesak oleh Thunberg, yang menekankan pentingnya mengatasi blokade Israel yang ia sebut ilegal dan tidak manusiawi.
Misi Humanitarian yang Dihalang
Global Sumud Flotilla (GSF) adalah gerakan internasional yang bertujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, yang saat ini berada di bawah blokade Israel. Armada GSF yang berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada awal September 2025, melibatkan sekitar 40 kapal sipil.
Selama pelayaran menuju Gaza, armada ini dicegat oleh Angkatan Laut Israel di lepas pantai Mesir, di mana Israel menuduh GSF sebagai bagian dari Hamas. Penghalangan ini semakin memicu ketegangan internasional, terutama terkait pelanggaran hak asasi manusia di wilayah konflik.
Thunberg menegaskan bahwa upaya mereka adalah bagian dari misi lebih besar untuk 'mematahkan pengepungan ilegal dan tidak manusiawi Israel' melalui laut, menyoroti komitmen mereka terhadap kemanusiaan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Reaksi dan Respons Global
Sesampainya di Athena, Thunberg menyatakan kepada awak media bahwa aksi ini sangat memalukan, khususnya ketika pemerintah internasional tidak menunjukkan keinginan untuk memberikan bantuan. 'Kita bahkan tidak melihat upaya minimum dari pemerintah kita,' ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Yunani melaporkan bahwa dari total 171 aktivis yang dideportasi oleh Israel, penerbangan yang mendarat di Athena membawa 27 warga Yunani dan 134 warga dari 15 negara Eropa lainnya. Hal ini menunjukkan adanya dukungan internasional yang signifikan terhadap misi kemanusiaan tersebut.
Negara-negara Eropa juga mengekspresikan keprihatinan mengenai pemindahan paksa ini, dan menuntut agar Israel menjaga hak asasi manusia dan kebebasan beraktivitas bagi individu.
Konteks Konflik dan Keberlanjutan Misi
Konflik antara Israel dan Palestina sudah berlangsung bertahun-tahun, dan banyak laporan menunjukkan kekerasan terus-menerus terhadap warga sipil Palestina. Thunberg menekankan bahwa tindakan global sangat diperlukan untuk mencegah genosida yang dinilainya semakin meningkat dalam dua tahun terakhir.
GSF sebelumnya pernah mengalami serangan di perairan Yunani dan saat berlabuh di Tunisia, yang dilaporkan sebagai upaya intimidasi terhadap misi bantuan kemanusiaan mereka. Meskipun menghadapi ancaman, mereka berkomitmen untuk terus melanjutkan upaya ini.
Dengan tekad yang tinggi, GSF menunjukkan keberanian dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan pengiriman bantuan ke mereka yang sangat membutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: