Risiko Demensia Meningkat karena Kesepian, Temukan Alasannya
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kesepian dapat meningkatkan risiko demensia hingga 31 persen. Penelitian ini melibatkan lebih dari 600.000 peserta dari berbagai studi yang telah dilakukan sebelumnya.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal National Mental Health oleh akademisi dari Florida State University College of Medicine. Dampak signifikan kesepian terhadap kesehatan kognitif menjadi fokus utama dalam studi ini.
Dalam studi ini, berbagai penelitian mengenai kesepian dan keterkaitannya dengan demensia telah ditinjau. Beberapa studi yang terlibat membahas risiko terhadap demensia Alzheimer dan vaskular.
Meta-analisis mencakup 21 studi yang mempertimbangkan dampak kesepian terhadap gangguan kognitif serta kesehatan mental dan fisik. Kesepian ternyata merupakan faktor risiko yang signifikan.
Martina Luchetti, penulis utama studi, menggarisbawahi bahwa demensia merupakan spektrum yang perubahan neuropatologis dapat mulai terjadi beberapa dekade sebelum gejala muncul. 'Penting untuk memahami hubungan ini agar dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat,' katanya.
Beberapa faktor meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kesepian, termasuk masalah penglihatan, pendengaran, dan mobilitas. Kematian orang terkasih atau pensiun juga berdampak besar.
Kesepian tidak selalu berarti terasing di tempat ramai; banyak orang merasa sendirian meski dikelilingi orang lain. 'Kesepian didefinisikan sebagai kurangnya hubungan bermakna,' penjelasan tersebut sangat relevan.
Dampak dari kesepian dapat menyebabkan gejala psikologis seperti depresi, yang terkait dengan penurunan fungsi kognitif. Semua ini berpotensi mengarah pada demensia, membuat kesepian isu yang perlu diperhatikan.
Untuk mencegah kesepian, memelihara hubungan sosial yang kuat dan sehat sangat dianjurkan. Individu disarankan mencari cara baru untuk terhubung dengan orang lain.
Menghubungi orang yang mengalami kesepian secara berkala dapat sangat membantu. Meskipun padat, waktu untuk berkomunikasi tetap penting dalam mengurangi perasaan terisolasi.
Aktivitas interaksi, baik melalui telepon maupun kunjungan, dapat menjadi motivasi bagi individu untuk keluar dari kesepian. Mengurangi kesepian diharapkan dapat mengurangi risiko demensia dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: