Prabowo Subianto Siap Menjadi Mediator Konflik AS dan Iran Amid Ketegangan Internasional
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk mengunjungi Teheran guna memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran. Ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara kedua negara.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Namun, tawaran ini tidak lepas dari kritik tajam, di mana sejumlah pengamat mengatakan bahwa langkah tersebut 'sangat tidak realistis'.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat pasca serangan oleh AS dan Israel yang terjadi pada akhir Januari 2026. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran turut menambah kompleksitas situasi ini.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sangat penting untuk perdagangan energi global, sehingga setiap ketegangan di kawasan ini mempunyai dampak yang jauh lebih luas.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi kesediaan Prabowo untuk memfasilitasi dialog pada 28 Februari 2026, di tengah kecemasan global mengenai dampak ekonomi dari konflik tersebut.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Seharusnya Dapat Perlakuan Istimewa di DPR
Sebagian mantan diplomat meragukan efektivitas tawaran mediasi tersebut. Dino Patti Djalal, misalnya, mempertanyakan kelayakan ide itu, menyatakan, 'Saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan.'
Djalal juga mengingatkan bahwa AS jarang menerima perantara dalam penyelesaian konflik karena 'Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu.'
Dari sudut pandang yang berbeda, Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden, mencatat bahwa posisi Indonesia sulit setelah adanya perjanjian dagang resiprokal dengan AS yang dianggap tidak seimbang.
Konflik ini tentunya tidak hanya berdampak dalam skala regional, tetapi juga berpotensi mempengaruhi ekonomi global, termasuk Indonesia sebagai negara yang mengimpor minyak. Penutupan Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada pasokan energi dan harga minyak dunia.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran melaporkan bahwa ada sekitar 329 warga Indonesia yang tinggal di Iran. Mereka mendesak untuk tetap waspada meskipun tidak ada ancaman langsung yang dirasakan.
Dalam konteks ini, Indonesia perlu meninjaunya kembali kebijakan luar negerinya, khususnya terkait dengan mediasi konflik yang melibatkan kekuatan global, guna mengedepankan kepentingan nasional.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Usai Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: