Rusia Menyatakan Kecaman Terhadap Serangan AS Di Iran
Ketegangan global kembali meningkat setelah Rusia mengutuk keras tindakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran baru-baru ini.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menilai bahwa langkah AS tersebut adalah bentuk operasi militer yang melawan upaya diplomasi.
Dmitry Medvedev menilai bahwa Washington telah menunjukkan 'wajah asli' mereka melalui serangan udara yang dilakukan bersama Israel pada 28 Februari 2026.
Ia berpendapat bahwa semua negosiasi dengan Iran hanyalah tampak sebagai upaya diplomasi dan menyatakan tidak ada niat tulus dari AS untuk menciptakan kesepakatan damai.
Kebijakan serangan militer yang dilakukan oleh AS ini merupakan puncak dari strategi 'tekanan maksimum' yang diusung oleh Presiden AS, Donald Trump.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial
Trump mengkritik pemerintahan sebelumnya yang dinilai terlalu lunak, yang memberikan waktu kepada Iran untuk memperkuat kemampuan nuklirnya serta pengaruhnya di Timur Tengah.
Ia menegaskan, 'Waktu untuk berdebat sudah habis. Iran telah mengabaikan setiap kesempatan untuk perdamaian...' dalam pernyataannya.
Usai serangan tersebut, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan serangan balasan terhadap aset AS dan sekutunya di Timur Tengah.
Ledakan keras terdengar di Abu Dhabi, memaksa otoritas untuk menutup sebagian ruang udara demi situasi darurat.
Laporan dari pemerintahan Kuwait juga mencatat aktivasi sistem pertahanan udara dan penutupan total ruang udara untuk penerbangan sipil.
Baca juga: Apple Siap Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: