Perusahaan Indonesia menunjukkan minat yang signifikan terhadap kecerdasan buatan (AI), meskipun hanya 19% yang merasa siap untuk mengadopsi teknologi tersebut.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta Tak Kondusif
Laporan terbaru dari Google dan Bain mengungkap bahwa Indonesia termasuk dalam 20 besar negara dengan ketertarikan tinggi terhadap AI, namun kesenjangan antara minat dan kesiapan masih menjadi kendala.
Menurut laporan McKinsey yang berjudul 'The state of AI in 2025: Agents, innovation, and transformation', sekitar 50% perusahaan yang menerapkan AI untuk transformasi bisnis menargetkan perubahan besar dalam tiga tahun ke depan.
Data ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan strategi AI yang jelas mampu meningkatkan performa mereka hingga 3,6 kali lebih baik dibandingkan perusahaan yang belum memanfaatkan teknologi tersebut.
Namun, banyak dari mereka yang masih menemui kesulitan dalam memulai adopsi AI, terutama terkait bagaimana menentukan use case yang tepat dan menilai kesiapan sistem internal.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, commsult, sebuah perusahaan teknologi asal Jerman, kini memperluas layanan implementasi AI bagi bisnis di Indonesia.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
"Kami percaya masa depan bisnis Indonesia akan ditentukan oleh bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan AI secara strategis," ujar Yanfa Putra, Head of AI Transformation commsult.
Yanfa menambahkan, "Di commsult, kami menjadikan AI bukan sekadar konsep, tetapi solusi nyata yang telah diterapkan dalam keseharian bisnis."
Contoh implementasi AI oleh commsult terlihat jelas dalam industri entertainment, di mana teknologi ini digunakan untuk membandingkan dua versi video, yaitu draft dan final, demi memastikan bahwa revisi sesuai dengan brief yang ditentukan.
Pakar keamanan siber Pratama Persadha menekankan bahwa peran konsultan dan integrator teknologi semakin penting, khususnya dalam konteks adopsi AI di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan teknologi tidak hanya bergantung pada kualitas algoritma yang digunakan, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut terintegrasi dengan proses bisnis yang ada.
"Konsultan kini berperan sebagai orkestrator yang menyatukan strategi, manusia, dan sistem dalam satu keselarasan digital yang efektif," ujar Pratama dengan tegas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: