BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 04 FEBRUARI 2026 • 11:02 WIB

Tragedi Tragis: Kematian Siswa SD di NTT Dorong Evaluasi Pendidikan

Tragedi Tragis: Kematian Siswa SD di NTT Dorong Evaluasi PendidikanTragedi Tragis: Kematian Siswa SD di NTT Dorong Evaluasi Pendidikan

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti kematian seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tewas menggantung diri. Peristiwa ini menjadi sinyal bagi negara untuk melindungi anak-anak dari berbagai tekanan yang tidak semestinya mereka hadapi.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

“Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat,” ungkap Hetifah pada Rabu, 4 Februari 2026. Menurutnya, peristiwa ini sangat menyayat hati dan tak bisa diterima di mana pun.

Urgensi Perlindungan Anak

Hetifah menegaskan bahwa anak berusia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan dan bantuan dari lingkungan sekitar mereka. Bukan malah merasakan putus asa akibat masalah yang seharusnya dapat diatasi, seperti akses terhadap buku dan alat belajar.

Kasus ini menggambarkan perlunya koreksi pada sistem pendidikan dan perlindungan sosial yang ada saat ini. Dalam pandangannya, pendidikan dasar harus benar-benar gratis dan inklusif, sehingga semua anak, termasuk yang berasal dari keluarga miskin, mendapatkan haknya.

“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin,” tambahnya. Ia menekankan bahwa ke depan, sistem pendidikan harus mampu menjamin pendidikan dasar gratis, termasuk perlengkapan belajar.

Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar

Surat Perpisahan yang Menggugah Hati

Dalam penanganan kasus ini, polisi menemukan sebuah surat tulisan tangan dari YBR (10), yang mencerminkan kekecewaannya terhadap ibunya. Sedih dan dibumbui ungkapan emosional, surat itu menyebut ibunya sebagai 'pelit'.

Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa, berisi ungkapan perpisahan dan harapan agar ibunya tidak menangisinya. “Mama Galo Zee (Mama pelit sekali),” adalah salah satu bagian yang sangat menyentuh dari surat tersebut.

Walaupun sudah beredar kabar mengenai penyebab kekecewaan YBR yang mendasari tindakan tragis ini, hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang mencukupi.

Tanggapan Pihak Berwenang dan Masyarakat

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan penemuan surat tersebut dan menyatakan bahwa masih ada penyelidikan lebih lanjut yang harus dilakukan. “Masih pendalaman,” ujarnya, menunjukkan bahwa kasus ini masih banyak misteri yang perlu terungkap.

Respon dari masyarakat serta pihak berwenang sangat diharapkan untuk mencegah tragedi serupa. Dalam hal ini, perhatian dan kepedulian sosial menjadi sangat penting, terutama bagi anak-anak yang dalam keadaan sulit.

Kepedulian sosial, khususnya di lingkungan sekolah, diharapkan dapat ditingkatkan agar setiap anak yang kesulitan dapat segera mendapatkan bantuan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan tidak ada lagi anak yang merasa sendirian dalam menghadapi berbagai persoalan.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Tragedi Tragis: Kematian Siswa SD di NTT Dorong Evaluasi Pendidikan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!