BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Selasa, 20 JANUARI 2026 • 17:55 WIB

Menyingkap Tekanan Sosial di Era Media Digital

Menyingkap Tekanan Sosial di Era Media DigitalMenyingkap Tekanan Sosial di Era Media Digital

Fenomena 'takut ketinggalan' atau yang lebih dikenal dengan FOMO (Fear of Missing Out), semakin terlihat dalam interaksi sosial masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat jelas, di mana banyak individu merasa tertekan untuk selalu mengikuti tren dan evento terkini.

Baca juga: Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae setelah Kematian Pengemudi Ojek Online

Media sosial menjadi faktor utama yang mendorong perasaan ini, di mana unggahan gambar dan video teman-teman menciptakan rasa ketidakpuasan dan keinginan untuk berpartisipasi dalam setiap momen yang sedang hype.

Dampak Media Sosial terhadap Persepsi Sosial

Media sosial seperti Instagram dan TikTok telah mengubah banyak aspek dari interaksi kita sehari-hari. Dengan banyaknya postingan yang terkesan glamor, individu merasa perlu berusaha keras untuk tetap relevan di antara teman-teman mereka.

Ketika seseorang melihat teman-teman mereka berlibur atau menghadiri acara yang meriah, muncul dorongan yang kuat untuk ikut serta. Hal ini terkadang membuat orang menghabiskan sumber daya mereka baik waktu maupun uang demi untuk sekadar terlihat sejalan.

Penelitian yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa individu yang aktif di media sosial cenderung mengalami perasaan kecemasan dan rendah diri. 'Mereka merasa tidak bisa bersaing dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna,' ungkap Dr. Rina, seorang psikolog sosial.

Baca juga: Kasus Oknum Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online, Jalur Pidana Terancam

Ketergantungan Emosional terhadap Pengakuan Sosial

Salah satu aspek penting dari fenomena ini adalah bagaimana rasa percaya diri seseorang sering kali tergantung pada jumlah 'likes' dan komentar yang mereka terima. Ini menunjukkan adanya ketergantungan emosional yang kuat terhadap pengakuan dari orang lain.

Banyak individu merasa tidak utuh jika tidak mendapatkan respons positif terhadap unggahan mereka. 'Mungkin kita perlu merenungkan seberapa pentingnya validasi dari orang lain,' jelas Dr. Ahmad, seorang ahli kesehatan mental.

Dari berbagai studi, terungkap bahwa hubungan antarindividu semakin menggeliat menjadi lebih superficial, di mana komunikasi langsung kerap digantikan oleh interaksi digital yang tidak mendalam.

Mengatasi Ketakutan Ketinggalan

Untuk mengatasi fenomena ini, penting bagi individu untuk menyadari dan menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap media sosial. Mengurangi penggunaan media sosial bisa jadi langkah awal untuk menurunkan tingkat kecemasan yang dialami.

Mencari hobi baru atau aktif dalam komunitas lokal merupakan alternatif yang baik untuk meningkatkan kesehatan mental. 'Dengan lebih terlibat secara langsung, kita dapat menemukan makna yang lebih dalam dalam interaksi,' tambah beberapa ahli.

Akhirnya, penting untuk mengenali bahwa tidak semua aspek kehidupan perlu diabadikan dalam bentuk postingan. Hidup bukan hanya tentang apa yang kita tunjukkan kepada dunia, tetapi juga tentang pengalaman dan perasaan kita dalam momen tersebut.

Baca juga: Apple Siap Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Menyingkap Tekanan Sosial di Era Media Digital

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!