Mengapa Penggalian Makam Kaisar Pertama China Masih Menjadi Pertanyaan Besar?
Makam Kaisar Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin dan kaisar pertama China, hingga saat ini belum pernah diekskavasi. Hal ini disebabkan oleh berbagai potensi risiko yang dapat merusak peninggalan berharga di dalamnya.
Baca juga: Direktur Lokataru Foundation Ditangkap Terkait Dugaan Penghasutan
Sejak penemuan kompleks Pasukan Terakota pada tahun 1974, ilmuwan lebih memilih untuk fokus menggali sisa-sisa tentara yang terbuat dari tanah liat, alih-alih menggali makam sang kaisar.
Qin Shi Huang menjadi kaisar pertama China dan memerintah sampai kematiannya pada tahun 210 SM. Ia dikenal sebagai penggagas kompleks Pasukan Terakota yang terletak di dekat makamnya.
Kompleks tersebut terdiri dari lebih dari 8.000 patung tentara, 130 kereta, dan 520 kuda, yang dipastikan akan mengawalnya di alam baka. Saat ini, sebagian besar artefak masih berada di dalam lubang dekat mausoleum, belum tergali.
Makamnya, yang terdaftar sebagai tempat bersejarah, menarik minat banyak ilmuwan. Namun, kekhawatiran akan kerusakan artefak yang ada menghalangi langkah untuk melakukan penggalian.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Salah satu alasan utama ilmuwan enggan menggali makam adalah potensi kerusakan pada peninggalan sejarah yang dianggap sangat berharga. Penggalian kota Troy yang berujung pada kehancurannya diingat sebagai pelajaran penting.
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya kandungan merkuri yang 100 kali lebih tinggi dari batas normal di sekitar situs tersebut. Hal ini menimbulkan dugaan tentang adanya sungai merkuri beracun yang dibuat oleh Qin di sekeliling makam.
Sima Qin, seorang pakar sejarah, menyatakan bahwa makam tersebut diisi dengan artefak langka dan jebakan mematikan. "Pengrajin diminta untuk membuat busur dan panah untuk menembak siapapun yang memasuki makam," tulisnya.
Makam Qin Shi Huang diperkirakan berada sekitar 35 meter di bawah permukaan tanah, menjadikan penggalian semakin kompleks. Proses ini memerlukan banyak sumber daya manusia dan teknik yang tepat.
Selain itu, China belum memiliki pengalaman yang signifikan dalam melakukan ekskavasi pada kedalaman seperti itu, yang menjadi tantangan tersendiri.
Saat ini, ilmuwan berharap kemajuan teknologi di masa depan akan memungkinkan penggalian dilakukan dengan aman, agar artefak yang ada dapat tetap utuh.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: