Pondok Pesantren Al Khoziny Mulai Bangun Gedung Baru untuk Santri
Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, telah resmi memulai pembangunan gedung baru melalui prosesi ground breaking yang dihadiri Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Batal karena Kerusuhan dalam Negeri
Proyek ini dilaksanakan di atas lahan seluas 4.100 meter persegi dengan nilai anggaran mencapai Rp125 miliar dari APBN, menjanjikan peningkatan kualitas pendidikan bagi para santri.
Kegiatan ground breaking dilaksanakan pada Kamis, 11 Desember 2025, dengan disaksikan oleh berbagai pihak termasuk pemerintah daerah.
Menteri Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan kolaborasi lintas kementerian dan menciptakan sinergi dalam penataan pembangunan pesantren.
Bangunan baru ini direncanakan mencakup gedung asrama lima lantai dan masjid empat lantai untuk mendukung perkembangan pendidikan dan spiritual santri.
Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin Iskandar, mengungkapkan, "Alhamdulillah hari ini saya dan seluruh lintas kementerian di dalam satuan tugas rekonstruksi pesantren hadir, memulai ground breaking Pesantren Al-Khoziny."
Baca juga: Sidang Etik Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online, Kompol Cosmas Dikenakan Pelanggaran Berat
Pembangunan gedung ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan santri, terutama setelah tragedi gedung lama ambruk yang merenggut 63 nyawa santri pada September 2025.
Cak Imin menekankan betapa pentingnya evaluasi dan perbaikan dalam sistem pendidikan pesantren untuk mencegah terulangnya kesalahan di masa lalu.
"Ketika musibah terjadi, Pak Presiden Prabowo memerintahkan kepada saya segera lakukan langkah-langkah cepat dan efektif untuk mengantisipasi pesantren-pesantren kita, agar kesalahan masa lalu tidak terulang," ujar Cak Imin.
Cak Imin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah serta pengasuh pesantren untuk menciptakan sistem pendidikan yang berdaya dan komprehensif.
Pengembangan kurikulum yang memadai mencakup keterampilan dan ilmu pengetahuan untuk santri menjadi bagian tak terpisahkan dalam upaya tersebut.
"Kurikulum harus komprehensif dan kita sudah memasukkan cara pandang pemberdayaan di dalam kurikulum pesantren-pesantren kita," jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: