BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 19 NOVEMBER 2025 • 14:54 WIB

Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Mengungkap Laporan Bullying dan Dampaknya

Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Mengungkap Laporan Bullying dan DampaknyaInsiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Mengungkap Laporan Bullying dan Dampaknya

Eks Kepala Densus 88 Antiteror, Komjen Marthinus Hukom, mengungkapkan bahwa terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta pernah melaporkan tindakan bullying yang dialaminya ke pihak sekolah, namun laporan tersebut tidak ditanggapi.

Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Pernyataan ini muncul seiring dengan penyelidikan saat ini tentang insiden yang melukai puluhan siswa dan guru di sekolah tersebut.

Pernyataan Eks Kepala Densus Mengenai Bullying di Sekolah

Marthinus Hukom menyatakan bahwa informasi terkait laporan bullying diperoleh dari pemeriksaan penyidik dan kesaksian siswa. Menurutnya, 'Itu kan dari hasil investigasi anak-anak penyidik di lapangan ya. Bahwa dia bersama temannya itu pernah lapor ke sekolah bahwa dia di-bully, tapi tidak ditanggapi.'

Catatan pribadi terduga pelaku, yang berstatus anak berkonflik dengan hukum, turut memperkuat pernyataan ini. Dalam buku catatan, terduga pelaku mengekspresikan rasa putus asa akibat tidak mendapatkan tanggapan atas laporan bullying yang dilaporkannya.

Marthinus menegaskan bahwa kondisi ini menggarisbawahi perlunya sekolah untuk lebih responsif terhadap isu perundungan. Ia menyebutkan, 'Bahkan dia kan sampai bilang bahwa, ‘Untuk apa percaya sama Tuhan, kita lapor kepada sekolah aja juga tidak ada keadilan,’ begitu.'

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni Berlanjut

Tanggapan Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta

Kepala SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, menanggapi dan membantah adanya laporan bullying dari siswa maupun guru. Ia mengatakan, 'Yang saya panggil memang satu, lalu saya minta tolong ke tiga guru BK lainnya, ‘siapa yang sudah dihubungi?’ Ternyata jawabannya, ‘Bu, kami enggak ada (laporan soal bully).’'

Dalam upaya investigasi lebih lanjut, Tetty menjelaskan bahwa ia telah melakukan pendekatan kepada siswa untuk menggali lebih dalam isu yang ada. 'Ya, sepengakuan anak-anak itu, mereka tidak tahu sebenarnya anak ini (pelaku) di-bully atau tidak,' ucapnya.

Dia memastikan bahwa dalam proses ini, tidak ditemukan informasi mengenai perundungan terhadap terduga pelaku. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi siswa untuk berbagi informasi.

Kronologi dan Dampak Ledakan

Insiden ledakan terjadi di masjid SMAN 72 Jakarta pada Jumat sekitar pukul 12.15 WIB ketika aktivitas salat Jumat berlangsung. Ledakan pertama terjadi saat khotbah, diikuti legakan kedua dari arah berbeda.

Peristiwa ini mengakibatkan 96 orang mengalami luka-luka, dengan terduga pelaku diketahui merupakan salah satu siswa dari sekolah tersebut yang diduga mengalami perundungan.

Pihak kepolisian juga menemukan benda yang mirip dengan airsoft gun dan revolver di lokasi kejadian, namun setelah diperiksa, kedua benda tersebut dipastikan adalah senjata mainan. Hingga kini, motif dan penyebab pasti dari ledakan tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak kepolisian.

Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Mengungkap Laporan Bullying dan Dampaknya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!