Satelit NISAR: Misi Kolaborasi NASA dan ISRO Menghadirkan Gambar Radar Pertama dari Bumi
Satelit hasil kolaborasi NASA dan ISRO, bernama NISAR, telah mengirimkan gambar radar pertama permukaan Bumi. Proyek ini diperkirakan menjadi salah satu riset Bumi termaju yang diluncurkan hingga saat ini.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Misi NISAR bertujuan untuk mempelajari interaksi antara daratan, vegetasi, dan es dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan teknologi radar ganda di dalamnya, ilmuwan dapat memantau perubahan alam secara akurat.
NISAR diluncurkan oleh ISRO pada 30 Juli lalu dan memotret Pulau Mount Desert di Maine, AS. Sistem radar L-band yang digunakan dapat menangkap detail visual yang menandai perairan, hutan, dan area tanah terbuka.
Setelah peluncuran, radar yang sama juga memotret North Dakota, menunjukkan area pertanian dan lahan basah dengan ketelitian tinggi. Teknologi ini memungkinkan pemantauan perubahan dalam tutupan lahan, pertumbuhan tanaman, dan kondisi hutan.
Kemampuan radar NISAR dalam mendeteksi objek sekecil lima meter sangat penting untuk memahami dampak langsung terhadap iklim serta ketahanan pangan global.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar
NISAR adalah satelit pertama yang dilengkapi dengan dua radar aktif berbeda: L-band dari NASA dan S-band dari ISRO. Radar L-band memungkinkan pemantauan pergerakan tanah hingga tingkat milimeter, sementara S-band lebih cocok untuk analisis vegetasi kecil.
Kombinasi kedua radar ini memberikan kemampuan kepada NISAR untuk memindai seluruh permukaan darat dan es Bumi dua kali setiap 12 hari. Antena berdiameter 12 meter menjadikannya sebagai antena terbesar yang dikirim NASA ke luar angkasa.
Teknologi mutakhir ini sangat esensial dalam mengumpulkan data yang relevan untuk pemahaman ilmiah dan pengambilan keputusan terkait perubahan iklim.
Saat ini, satelit NISAR berada di orbit setinggi 747 kilometer dan dijadwalkan akan beroperasi penuh pada November tahun ini. Data yang terkumpul diharapkan dapat memberikan wawasan kepada ilmuwan tentang evolusi Bumi dari waktu ke waktu.
Nicky Fox, Associate Administrator Science Mission Directorate NASA, menyampaikan, "Gambar awal ini baru pembuka dari data luar biasa yang akan dihasilkan NISAR."
Dia menambahkan bahwa sains di balik NISAR akan memberi gambaran jelas tentang perubahan di daratan dan lapisan es, serta menjadi landasan bagi pengambil kebijakan dalam menghadapi bencana alam.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: