BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 11:42 WIB

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Era Digital dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Era Digital dan Dampaknya pada Kesehatan MentalFenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Era Digital dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mengalami peningkatan signifikan di era digital ini, terutama di kalangan pengguna smartphone. Kebiasaan memeriksa notifikasi secara terus-menerus telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari individu.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Namun, perilaku ini membawa dampak negatif yang serius terhadap kesehatan mental, produktivitas, dan interaksi sosial. Dengan ketergantungan teknologi yang terus meningkat, perhatian masyarakat terhadap isu ini semakin mendesak.

Penyebab Utama FOMO dan Perilaku Cek Notifikasi

Fear of Missing Out (FOMO) adalah kondisi psikologis yang mendorong ketidaknyamanan individu atas kemungkinan kehilangan informasi atau pengalaman terbaru. Salah satu faktor utama dari fenomena ini adalah pengaruh media sosial yang menyajikan informasi secara instan dan menarik.

Melalui platform media sosial, pengguna dapat membagikan berbagai momen, yang kemudian dapat mendorong orang lain untuk merasa terdorong untuk turut serta. Ketika orang melihat aktivitas teman-teman mereka yang tengah berlangsung, muncul keinginan yang kuat untuk memeriksa ponsel secara terus-menerus.

Adanya push notification dari berbagai aplikasi juga memperburuk situasi ini. Suara notifikasi yang terus muncul membuat pengguna merasa terpaksa untuk segera memeriksa ponsel, yang akhirnya mengganggu konsentrasi dan menurunkan produktivitas.

Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan

Dampak Kesehatan Mental

Perilaku cek notifikasi yang berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, dan depresi. Keinginan yang terus-menerus untuk terhubung sering kali menyebabkan individu berasa tidak puas, meskipun mereka selalu mendapatkan informasi terbaru.

Berdasarkan penelitian, mereka yang memiliki tingkat FOMO yang tinggi cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Banyak yang merasa terasing dan kurang terlibat dalam interaksi langsung dengan orang lain.

Dalam konteks kesehatan mental, FOMO dapat memicu fokus yang berlebihan pada interaksi virtual, mengabaikan hubungan yang lebih bermakna dan mendalam di dunia nyata. Hal ini berdampak negatif pada kualitas kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang.

Solusi dan Upaya Mengatasi FOMO

Mengatasi kondisi FOMO membutuhkan pendekatan yang terencana dan sering kali memerlukan bimbingan profesional. Salah satu langkah awal yang bisa diambil adalah dengan menyesuaikan kebiasaan penggunaan ponsel dan mengendalikan waktu yang dihabiskan untuk memeriksa notifikasi.

Selain itu, individu disarankan untuk lebih memprioritaskan aktivitas offline, seperti berinteraksi secara tatap muka dengan keluarga atau teman. Langkah ini tidak hanya dapat memperbaiki kualitas hubungan, tetapi juga membantu mengurangi tingkat ketergantungan pada perangkat digital.

Teknik mindfulness dan relaksasi juga dapat diterapkan untuk membantu individu menemukan kedamaian diri tanpa terganggu oleh distraksi digital. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan kualitas hidup serta mengurangi gejala kecemasan yang muncul akibat FOMO.

Baca juga: Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Era Digital dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!