Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjawab usulan pemindahan posisi gerbong khusus wanita menyusul kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Demo Ricuh di Jakarta
Dalam pernyataannya, AHY menekankan bahwa keselamatan publik menjadi prioritas utama dalam sistem transportasi publik.
Keselamatan Sebagai Prioritas
Dalam seruan mengenai keselamatan transportasi, AHY menyatakan, "Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik."
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya sistem transportasi yang melindungi semua penumpang dari risiko kecelakaan, terlepas dari gender.
Menyusul kekhawatiran mengenai posisi perempuan sebagai kelompok rentan, AHY pun mencatat bahwa insiden terkait belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, peninjauan kembali sistem keselamatan menjadi sangat penting.
Investigasi Mengenai Kecelakaan
AHY juga telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait kecelakaan tersebut.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
"KNKT tadi sudah menyanggupi akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Saya minta transparan, terbuka, bisa dijelaskan kepada publik," tuturnya.
Investigasi ini diharapkan tidak hanya meneliti penyebab kecelakaan, tetapi juga mengidentifikasi dugaan adanya gangguan pada sistem persinyalan.
AHY menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai keselamatan transportasi untuk mengurangi kemungkinan terulangnya insiden serupa di masa depan.
Solusi Jangka Panjang untuk Keselamatan Transportasi
Sebagai langkah solusi jangka panjang, AHY menyarankan pembangunan infrastruktur seperti jalan layang dan terowongan di area pelintasan sebidang yang padat.
"Selebihnya kita ingin memastikan juga hadir solusi infrastruktur. Misalnya, ketika ada lintasan-lintasan sebidang yang memang sangat padat di sejumlah kota, itu perlu kita bangun flyover atau underpass," ujarnya.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat signifikan mengurangi risiko kecelakaan di masa mendatang.
Kecelakaan tragis yang terjadi pada 27 April 2026, yang merenggut nyawa 15 penumpang KRL dan melukai 81 lainnya, semakin menegaskan perlunya penerapan langkah-langkah nyata dalam menjaga keselamatan sistem transportasi.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: