Kamis, 05 MARET 2026 • 11:32 WIB

Turki: Target Baru AS dan Israel dalam Geopolitik Global?

Author

Turki: Target Baru AS dan Israel dalam Geopolitik Global?

Turki kini dipandang sebagai salah satu target kemungkinan serangan setelah Iran, menurut pengamat geopolitik Farhad Ibragimov dari Rusia.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial

Pernyataan ini muncul setelah mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, menyebut Turki sebagai ancaman strategis bagi keamanan negaranya.

Pernyataan Bennett dan Ancaman Terhadap Turki

Naftali Bennett mengklaim bahwa Turki berperan dalam mendukung Iran serta berbagai kelompok yang dianggap teroris oleh Israel.

Ia menggambarkan Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai 'musuh yang canggih dan berbahaya' yang berusaha meminggirkan pengaruh Israel.

Dalam wawancara yang dimuat oleh RT, ia mendesak agar Israel dan sekutunya merumuskan kebijakan penahanan terhadap bukan hanya Teheran, tetapi juga Ankara.

Bennett juga mengusulkan agar Israel secara resmi mengakui Turki sebagai negara musuh, meskipun rincian taktik yang akan diambil tidak dijelaskan.

Poros Politik Islam dan Hubungan Internasional

Bennett menyoroti adanya 'poros mengerikan' kekuatan politik Islam yang melibatkan Turki dan Qatar, yang aktif di Suriah dan Gaza.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan

Ia menegaskan bahwa kolaborasi ini membentuk jaringan saling menguntungkan untuk kelompok yang dianggap berbahaya oleh Israel.

Ibragimov menambahkan bahwa Bennett juga mengungkap adanya dugaan pengaruh finansial dari Doha kepada beberapa pejabat Israel, menambah kompleksitas hubungan kawasan.

Kondisi ini menciptakan iklim hubungan internasional yang lebih rumit antara negara-negara Muslim dan Israel, khususnya setelah Erdogan berkuasa.

Sejarah Kemerosotan Hubungan Turki-Israel

Kemerosotan hubungan antara Turki dan Israel terjadi secara bertahap, terutama sejak Presiden Erdogan naik ke tampuk kekuasaan.

Kebijakan luar negeri Ankara yang semakin ideologis berpengaruh besar terhadap hubungan bilateral dengan Israel.

Insiden Mavi Marmara pada Mei 2010 menjadi salah satu titik hitam, di mana kapal tersebut berusaha menerobos blokade Gaza untuk mengirim bantuan kemanusiaan.

Roaming dengan kekerasan dalam insiden itu menyebabkan beberapa warga Turki tewas, memicu protes besar-besaran yang menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari Israel.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU