Rabu, 04 MARET 2026 • 23:00 WIB

Kenaikan Biaya BPJS Kesehatan Akibat Lonjakan Gagal Ginjal

Author

Kenaikan Biaya BPJS Kesehatan Akibat Lonjakan Gagal Ginjal

Penyakit katastropik kini menjadi faktor dominan yang meningkatkan biaya layanan di BPJS Kesehatan, dengan tujuh kelompok penyakit mahal menghabiskan sekitar 26,42 persen dari total beban pelayanan setiap tahunnya.

Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos

Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Sutopo Patria Jati, menekankan pentingnya pengendalian penyakit mahal ini dalam konferensi pers di Jakarta.

Data Terkini tentang Penyakit Berbiaya Tinggi

Dalam setahun terakhir, peta penyakit dalam pembiayaan BPJS Kesehatan mengalami perubahan signifikan. Di tahun 2024, penyakit jantung menduduki posisi teratas dengan 22,55 juta kasus dan menghabiskan biaya Rp 19,25 triliun.

Namun, pada tahun 2025, gagal ginjal muncul sebagai masalah yang semakin besar, dengan total 12,68 juta kasus dan biaya mencengangkan sebesar Rp 13 triliun. Perubahan ini menyoroti kebutuhan untuk fokus pada pengelolaan penyakit ini secara lebih efektif.

Kanker yang sebelumnya menduduki urutan kedua harus turun ke posisi ketiga dengan 7,19 juta kasus dan mengeluarkan biaya Rp 10,3 triliun. Sementara itu, stroke juga menunjukkan angka signifikan dengan 9,53 juta kasus dan memerlukan biaya sebesar Rp 7,2 triliun.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni Berlanjut

Kenaikan Drastis Kasus Gagal Ginjal

Kasus gagal ginjal kini menjadi perhatian utama, dengan lonjakan angka mencapai hampir sembilan kali lipat dalam setahun. Ini menghasilkan tekanan yang tidak biasa terhadap sistem layanan kesehatan Indonesia.

"Penyakit berbiaya mahal atau katastropik ada sekitar tujuh, sudah menghabiskan sekitar 26,42 persen per tahunnya dari beban pelayanan pembiayaan BPJS Kesehatan," jelas Sutopo Patria Jati.

Lonjakan ini sering kali terkait dengan kebutuhan terapi jangka panjang, di mana banyak pasien harus menjalani hemodialisis secara rutin.

Tren Pembiayaan Penyakit Lain

Meskipun penyakit jantung menunjukkan tren peningkatan jumlah kasus dari 22,55 juta menjadi 29,73 juta, biaya layanan malah turun dari Rp 19,25 triliun menjadi Rp 17 triliun. Hal ini mengindikasikan perubahan dalam pola klaim atau mungkin adanya efisiensi layanan.

Kanker dan stroke juga mengalami peningkatan dalam jumlah kasus serta biaya, walau tidak secepat lonjakan yang terjadi pada penyakit gagal ginjal.

Kondisi ini semakin menunjukkan perlunya strategi perencanaan kesehatan yang lebih baik untuk mengantisipasi beban biaya di masa depan.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Provokasi Massa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU