Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 22:28 WIB

Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Terungkap Bukan Sinkhole

Author

Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Terungkap Bukan Sinkhole

Lubang tanah di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, kini telah meluas mencapai 27 ribu meter persegi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengklarifikasi bahwa kejadian ini disebabkan oleh longsoran tanah, bukan sinkhole seperti yang dipahami banyak orang.

Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa struktur geologi di area tersebut terdiri dari material tufa yang rentan, sehingga memicu terjadinya fenomena tersebut.

Penjelasan Geologis Mengenai Lubang Raksasa

Laporan dari BRIN menyatakan bahwa keberadaan lubang besar ini tidak berkaitan dengan batu gamping yang biasanya menjadi penyebab sinkhole. Sebaliknya, wilayah Ketol didominasi oleh material tufa yang berasal dari aktivitas Gunung Geurendong.

Adrin Tohari mengklarifikasi, "Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh." Telah terungkap bahwa pola erosi dan longsor di kawasan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun.

Gambaran citra satelit dari Google Earth menunjukkan lembah kecil yang semakin melebar akibat erosi. Jika proses ini diperparah oleh hujan lebat, lubang yang lebih besar dapat terbentuk di kawasan tersebut.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang

Faktor Penyebab Meluasnya Lubang

Adrin menjelaskan bahwa gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo pada tahun 2013 berkontribusi terhadap ketidakstabilan struktur lereng. "Gempa bumi itu diperkirakan memperlemah struktur lereng dan memicu ketidakstabilan yang semakin besar," ujarnya.

Hujan lebat juga menjadi faktor penting yang memperburuk kondisi tanah di sekitar lubang. "Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air, sehingga lapisan tanah kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh," tambahnya.

Selain itu, adanya saluran irigasi perkebunan yang terbuka memperburuk kelembaban lapisan tufa. Air yang terus meresap meningkatkan risiko terjadinya longsor pada area yang rawan.

Upaya Mitigasi dan Rencana Penelitian Selanjutnya

BRIN saat ini masih dalam tahap analisis menggunakan data citra satelit dan informasi publik. Namun, Adrin mengingatkan pentingnya melakukan penelitian lebih mendalam untuk memastikan penyebab dan dampak dari fenomena ini.

"Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," jelasnya.

Ia juga menyarankan pembaruan peta kerentanan gerakan tanah setelah kejadian ini. "Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," tambahnya.

Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU