Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memaparkan pentingnya hilirisasi terhadap komoditas utama kelapa, gambir, dan CPO dalam mendorong perekonomian Indonesia. Ia menyebutkan bahwa dengan strategi yang tepat, nilai tambah dari hilirisasi ini bisa mencapai Rp20.000 triliun, setara dengan tujuh tahun anggaran APBN Indonesia.
Baca juga: Menggali Konsep Self Love: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kesempatan di Sidang Dewan Pleno HIPMI 2026, Amran menekankan bahwa keberanian untuk mengolah sumber daya alam akan menjadi penentu masa depan ekonomi negara. 'Ini bukan mimpi. Ini soal kita mau atau tidak,' ujarnya.
Potensi Hilirisasi Kelapa
Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan produksi kelapa terbesar di dunia, namun nilai tambah dari komoditas ini masih tergolong rendah. 'Harga kelapa tercatat Rp1.350, dan jika dilakukan hilirisasi menjadi coconut milk atau coconut water, nilainya bisa naik 100 kali lipat,' jelasnya.
Amran menekankan bahwa dengan pengolahan yang tepat, ekspor produk turunan kelapa bisa meningkat pesat. Ia menambahkan, 'Ekspor kita Rp24 triliun, kalau diolah bisa jadi Rp2.400 triliun, bahkan Rp5.000 triliun.'
Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Peluang dari Gambir
Komoditas gambir, yang sekitar 80 persen materialnya dikuasai Indonesia, juga dinilai memiliki potensi ekonomis yang sangat baik. Amran mengungkapkan keprihatinannya, 'sedihnya gambir kita diekspor, diolah di luar, lalu dijual kembali ke dunia.'
Ia percaya bahwa pengolahan gambir di dalam negeri dapat maksimal menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. 'Potensinya Rp5.000 triliun. Kita mau berubah atau tidak?' tegasnya.
Strategi Hilirisasi CPO
Pada komoditas CPO, Indonesia memiliki kekuatan menguasai 60–70 persen pasar dunia, yang menghadirkan peluang besar untuk hilirisasi. Amran menjelaskan, 'kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor.'
Dengan penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, ia percaya nilai tambah CPO dapat meningkat drastis. 'Sekarang nilainya Rp549 triliun, bisa jadi Rp1.500 triliun, bahkan Rp5.000 triliun kalau hilirisasi penuh,' ungkapnya.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Bombastis Menjelang Penutupan Bursa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: