Rusia mengumumkan ketidakhadirannya di Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Perdamaian yang akan berlangsung di Washington, AS pada 19 Januari mendatang.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Juru bicara kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, menegaskan tidak ada rencana partisipasi dari pihak Kremlin, termasuk Presiden Vladimir Putin.
Pernyataan Resmi dari Rusia
Dmitry Peskov mengonfirmasi bahwa proposal KTT Dewan Perdamaian masih dalam peninjauan oleh Kementerian Luar Negeri Rusia. Meskipun diundang langsung oleh Presiden AS, hingga kini belum ada keputusan resmi dari Kremlin.
Peskov menyatakan, 'Tidak ada seorang pun dari Kremlin yang merencanakan apa pun,' menunjukkan sikap Rusia yang tegas terkait forum ini.
Kremlin sebelumnya menyebut Dewan Perdamaian sebagai 'perkembangan positif', namun menegaskan perlunya lebih banyak upaya untuk menangani akar penyebab ketidakstabilan di kawasan.
Baca juga: Adrian Wibowo: Pemain Indonesia-Amerika Pertama di Major League Soccer
Respon Negara Lain Terhadap KTT
KTT ini bukan hanya menjadi perhatian Rusia; Belarusia juga menyatakan ketidakhadirannya. Presiden Alexander Lukashenko menyebutkan bahwa ada bentrok dengan agenda pemerintahannya.
India hingga saat ini masih mempertimbangkan kehadirannya di KTT tersebut, dan belum memberikan jawaban resmi setelah menerima undangan dari Trump.
Italia dan Polandia telah mengumumkan ketidakikutsertaan mereka, dengan alasan bahwa prinsip Dewan Perdamaian tidak sesuai dengan konstitusi dan nilai-nilai yang mereka anut.
Tantangan bagi KTT Dewan Perdamaian
Inisiatif KTT Dewan Perdamaian ini dimunculkan oleh Trump dengan harapan dapat menjadi platform diskusi tentang penyelesaian konflik global. Namun, ketidakhadiran negara-negara besar menimbulkan keraguan tentang efektivitas forum ini.
Keberhasilan KTT diharapkan dapat menciptakan dialog yang konstruktif bagi semua negara. Namun, dengan semakin sedikitnya negara yang bersedia hadir, pertanyaan tentang dampak dan keefektifan KTT ini semakin mendesak.
Kehadiran atau ketidakhadiran negara besar dalam forum ini berpotensi mempengaruhi dinamika diplomasi internasional, khususnya dalam konteks permasalahan perdamaian global.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: