Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 20:44 WIB

Nyeri Dada Terkait Angin Duduk: Waspadai Tanda Serangan Jantung

Author

Nyeri Dada Terkait Angin Duduk: Waspadai Tanda Serangan Jantung

Istilah 'angin duduk' sering kali digunakan untuk menggambarkan nyeri dada, namun kondisi ini dapat menjadi sinyal awal serangan jantung yang serius.

Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat

Spesialis jantung memperingatkan bahwa gejala yang dianggap sepele memerlukan perhatian medis segera untuk mencegah risiko fatal.

Pengertian dan Persepsi Masyarakat

Di banyak kalangan, nyeri dada sering disamakan dengan gejala 'masuk angin'. Menurut dr. Yislam Aljaidi, keluhan ini terkadang juga menyertakan sakit punggung, meriang, dan keringat dingin.

Ia menyatakan bahwa meskipun sering dianggap remeh, keluhan ini mungkin merujuk pada tanda-tanda awal serangan jantung. Oleh karena itu, sangat penting untuk tidak menganggapnya sebagai gejala biasa.

Dr. Yislam menambahkan, 'Karena keluhannya nyeri dada nggak nyaman, bisa menjalar ke bahu, bisa ke leher, ke punggung. Ditambah seolah-olah mirip gejala 'masuk angin'.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens

Dampak Pemberian Penanganan yang Tidak Tepat

Salah satu risiko utama dari penanganan yang keliru terhadap gejala serangan jantung adalah hilangnya waktu yang berharga. Dr. Yislam menekankan pentingnya untuk segera mencari perawatan medis ketika mengalami ketidaknyamanan.

Ia mengingatkan, 'Makanya dianggap kayak 'angin duduk' karena pada saat itu dia dikerokin saja.' Terlambatnya penanganan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya henti jantung.

Setiap detik yang terlewat saat penanganan tidak tepat dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk kematian mendadak.

Kerokan: Mitos atau Realitas?

Banyak orang merasa nyaman setelah melakukan kerokan, tetapi dr. Yislam menekankan bahwa kerokan tidak mengobati penyumbatan jantung. Kenyamanan yang dirasakan sebenarnya lebih bersifat sugesti.

"Kalau dikerok, pembuluh darah yang di dalam (jantung) tetap tersumbat. Kerokan itu cuma persepsi masing-masing orang dan sebenarnya sugesti saja," ungkapnya.

Ia juga memperingatkan risiko dari kerokan, seperti peradangan kulit dan infeksi, terutama jika alat yang digunakan tidak steril. Metode ini, menurutnya, tidak dianjurkan bagi mereka yang merasakan gejala serangan jantung.

Baca juga: Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU