Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 12:02 WIB

Tren Meningkatnya Angka Kematian Akibat Penyakit Neurologis di Seluruh Dunia

Author

Tren Meningkatnya Angka Kematian Akibat Penyakit Neurologis di Seluruh Dunia

Setiap tahun, lebih dari 11 juta orang meninggal dunia akibat penyakit neurologis, kondisi yang kini mempengaruhi hampir 3 miliar penduduk global.

Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa perhatian terhadap penyakit ini masih sangat kurang, dengan banyak negara belum memiliki kebijakan yang memadai.

Definisi dan Contoh Penyakit Neurologis

Penyakit neurologis mencakup berbagai kondisi yang berdampak pada sistem saraf, meliputi otak, sumsum tulang belakang, dan saraf tepi.

Kondisi-kondisi ini dapat mengganggu fungsi tubuh seperti gerakan, sensasi, dan perilaku. Contoh-contoh utama termasuk stroke, epilepsi, Alzheimer, migrain, neuropati, meningitis, dan Autism Spectrum Disorder.

Setiap penyakit tersebut memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda yang berpotensi merusak kualitas hidup individu yang mengalaminya.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni Berlanjut

Statistik Kematian dan Kebijakan Global

Menurut WHO, kematian akibat penyakit neurologis mencapai 11 juta jiwa per tahun, yang berarti sekitar 40% populasi dunia terpengaruh oleh berbagai kondisi tersebut.

Namun, hanya 32% dari 194 negara yang memiliki kebijakan nasional untuk khusus menangani penyakit neurologis.

Dari jumlah ini, hanya 18% negara yang mengalokasikan dana khusus untuk penanganan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 25% dari negara-negara tersebut yang telah memasukkan penyakit neurologis dalam paket jaminan kesehatan universal.

Ketimpangan dalam Akses Perawatan

Laporan WHO mengungkapkan ketimpangan signifikan dalam akses terhadap perawatan penyakit neurologis, terutama antara negara berpenghasilan rendah dan tinggi.

Di beberapa negara berpenghasilan rendah, jumlah ahli saraf bisa lebih sedikit hingga 82 kali dibandingkan negara-negara kaya, menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan.

Stigma sosial dan keterbatasan biaya juga berkontribusi terhadap rendahnya akses ke layanan kesehatan, terutama di daerah terpencil yang sering tidak memiliki unit stroke atau fasilitas rehabilitasi yang memadai.

Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU