Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan bahwa penyaluran dana ke sektor riil terhambat meskipun likuiditas dalam sektor perbankan saat ini melimpah. Ia menekankan bahwa meski telah ada kebijakan dukungan likuiditas, pertumbuhan kredit masih belum mencapai tingkat optimal.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Destry menjelaskan bahwa BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 125 basis points ke level 4,75%, tetapi transmisi ke sektor riil tetap lambat. Meskipun kebijakan makroprudensial senilai Rp 338 triliun diterapkan, kredit belum dapat disalurkan secara efektif.
Kondisi Terkini Perbankan Indonesia
Destry Damayanti mengungkapkan bahwa sejak awal 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 4,75%. Ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan likuiditas di sektor perbankan Indonesia.
Meskipun suku bunga diturunkan, Destry mencatat bahwa transmisi kebijakan ini ke sektor riil tetap berjalan lambat. Ia mencatat, "landing rate kok belum turun, bank ada yang mampet," menunjukan kendala yang dihadapi dalam penyaluran kredit.
Selain itu, BI juga menerapkan kebijakan likuiditas makroprudensial yang mencapai Rp 338 triliun. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menjaga keseimbangan pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Demo Ricuh di Jakarta
Pelambatan Pertumbuhan Kredit
Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit di Indonesia pada 2025 hanya mencapai 9,69% secara tahunan. Ini menandakan penurunan signifikan dibandingkan pertumbuhan 10,93% pada tahun 2024.
Destry menggarisbawahi bahwa meski permintaan kredit tetap ada, terdapat kendala yang menghambat penyalurannya, namun ia tidak menjelaskan penyebab pasti dari situasi ini.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan otoritas moneter, yang sedang mencari langkah-langkah efektif untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor riil.
Langkah Strategis Mengatasi Hambatan
Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah dan otoritas moneter telah membentuk tim debottlenecking. Tim ini ditugaskan untuk mengidentifikasi serta menyelesaikan berbagai kendala dalam sektor bisnis.
Upaya ini juga termasuk dalam akselerasi program strategis pemerintah (P2SP) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Destry mengungkapkan, "Ini satu masukkan tim debottlenecking di keuangan. Karena bank likuiditas punya," menunjukkan adanya komitmen untuk mempercepat perbaikan.
Langkah-langkah lebih lanjut diharapkan akan membantu dalam meningkatkan penyaluran kredit, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat kembali ke jalurnya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: