Di tengah dinamika dunia kerja yang semakin kompleks, fenomena 'quiet quitting' muncul sebagai perilaku yang menarik perhatian banyak orang. Tidak sekadar berhenti kerja, tetapi lebih kepada sikap untuk bekerja dengan batasan yang ditetapkan oleh diri sendiri.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Bagi kaum muda, fenomena ini sangat relevan karena merefleksikan ketidakpuasan terhadap harapan yang terlalu tinggi di tempat kerja dan keinginan untuk menemukan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.
Apa itu Quiet Quitting?
Quiet quitting bukanlah tentang mengundurkan diri dari pekerjaan, melainkan tentang menentukan batasan dalam bekerja. Karyawan yang menerapkan konsep ini biasanya hanya menyelesaikan tugas yang sudah ditentukan tanpa berusaha lebih dari yang diharapkan.
Konsep ini banyak dibahas di media sosial, terutama TikTok dan Twitter, di mana individu berbagi pengalamannya tentang tekanan kerja yang berlebihan. Mengabaikan tuntutan yang tidak realistis di lingkungan kerja dianggap sebagai langkah untuk menjaga kesehatan mental.
Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 50% pekerja muda merasa terjebak dalam rutinitas monoton yang tidak memberikan kebahagiaan. Hal ini menandakan kurangnya apresiasi yang dirasakan oleh karyawan dan upaya mereka untuk mempertahankan semangat kerja tanpa kehilangan diri.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Faktor Penyebab Quiet Quitting di Kalangan Anak Muda
Salah satu faktor utama yang mendorong fenomena ini adalah meningkatnya tuntutan pekerjaan tanpa ada imbalan yang sepadan. Banyak perusahaan gagal memberi respon atau solusi bagi karyawan yang merasa tertekan, yang pada akhirnya menciptakan frustrasi.
Kondisi ekonomi yang tidak menentu juga berkontribusi pada meningkatnya sikap quiet quitting. Banyak pekerja muda merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak memuaskan, sehingga mereka lebih memilih untuk berhenti berinvestasi emosional di tempat kerja.
"Anak muda saat ini lebih memilih bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja," ujar seorang peneliti sumber daya manusia yang meneliti tren ini. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dalam pola pikir generasi yang lebih mengutamakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dampak Quiet Quitting pada Dunia Kerja
Dampak dari fenomena quiet quitting cukup signifikan, mulai dari penurunan produktivitas hingga meningkatnya tingkat keluar karyawan. Perusahaan yang mengabaikan gejala ini berisiko kehilangan talenta berbakat yang sangat dibutuhkan.
Namun, fenomena ini juga bisa menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan. Jika ditangani dengan tepat, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan memuaskan bagi semua pihak.
Perusahaan diharapkan bisa lebih adaptif dengan kebutuhan karyawan, seperti menawarkan fleksibilitas dalam jam kerja atau meningkatkan dukungan mental bagi pekerja. Dengan cara ini, diharapkan tingkat quiet quitting dapat berkurang di kalangan anak muda.
Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: