Gunung api aktif menjadi sorotan penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Memahami karakteristik serta cara mengenali status gunung api sangat krusial untuk keselamatan.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Di Indonesia, yang dikelilingi oleh banyak gunung api, informasi tentang aktivitas vulkanik perlu diberikan perhatian maksimal oleh masyarakat. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai gunung api aktif dan cara pemantaunya.
Apa Itu Gunung Api Aktif?
Gunung api aktif adalah gunung yang telah meletus dalam waktu yang relatif baru dan masih memiliki potensi untuk kembali meletus. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sebuah gunung api dapat dikategorikan aktif jika terjadi letusan dalam 10.000 tahun terakhir.
Tidak semua gunung yang tidak menunjukkan aktivitas dalam waktu lama dapat dianggap tidak aktif. Beberapa gunung api memerlukan waktu yang panjang antara setiap letusannya, dan masih terdapat interaksi geologis yang dapat menghasilkan aktivitas.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar
Ciri-Ciri Gunung Api Aktif
Ciri mencolok dari gunung api aktif adalah adanya aktivitas geotermal, seperti sumber air panas dan fumarol, yaitu kebocoran gas dari tanah. Tanda-tanda ini sering menunjukkan bahwa magma masih bergerak di bawah permukaan, menurut para ahli.
Perubahan pada permukaan tanah, seperti deformasi, juga menjadi indikator aktivitas vulkanik. Alat geodetik canggih dapat digunakan untuk mengukur pergerakan tanah ini, membantu ilmuwan dalam melakukan pemantauan lebih dekat.
Cara Mengenali Status Gunung Api Aktif
Masyarakat dapat memantau informasi terkini tentang status gunung api melalui pusat vulkanologi atau aplikasi resmi yang menyajikan data vulkanik. Peneliti dan ilmuwan melakukan pemantauan melalui pengukuran seismik serta pengamatan visual.
Perubahan pola aliran sungai dan perilaku hewan di sekitar area juga bisa memberi petunjuk awal tentang potensi letusan. "Perubahan dalam perilaku hewan sering kali menjadi indikator yang tidak bisa diabaikan untuk mendeteksi potensi bahaya", tutur seorang ahli vulkanologi.
Baca juga: Aliansi BEM SI Siapkan Aksi Unjuk Rasa Besar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: