Senin, 26 JANUARI 2026 • 14:55 WIB

Gelondongan Kayu dan Ikan Melimpah di Pantai Larangan Akibat Banjir Bandang

Author

Gelondongan Kayu dan Ikan Melimpah di Pantai Larangan Akibat Banjir Bandang

Pantai Larangan di Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kini dipenuhi batang kayu setelah banjir bandang menerjang kawasan Guci pada 23 Januari 2026.

Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia

Kayu-kayu yang terdampar diduga berasal dari hutan di sekitar Gunung Slamet, dan seorang warga menjelaskan bahwa kejadian ini adalah dampak dari luapan sungai setempat.

Asal Usul Kayu di Pantai Larangan

Pasca banjir bandang, batang kayu besar terdampar di Pantai Larangan, akibat arus Sungai Gung yang meluap. Ali Sadikin, seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa kayu-kayu ini berasal dari muara Kali Gung.

"Pantai ini dekat muara Kali Gung, sungai ini tersambung sampai ke Guci. Sehari setelah kejadian banjir, kayu-kayu ini keluar dari muara Kali Gung," ungkapnya.

Kayu-kayu yang terdampar bervariasi, mulai dari ukuran hingga jenis, mencerminkan keragaman sumber kayu di kawasan tersebut.

Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Kondisi Kayu dan Ikan di Pantai

Kondisi kayu yang terdampar meliputi berbagai jenis seperti sengon, pinus, albasia, dan mahoni. Beberapa kayu ini diduga berasal dari penebangan liar di hutan lereng Gunung Slamet yang menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak negatif terhadap lingkungan.

Selain kayu, banyak ikan air tawar yang terdampar akibat banjir. Warga seperti Warim mencatat bahwa jenis-jenis ikan seperti nila dan patin sering ditemukan mengambang di permukaan.

Ikan-ikan tersebut diambil oleh warga untuk dibawa pulang, menambah perilaku penangkapan pascabencana yang telah menjadi perhatian.

Dampak Lingkungan dan Sosial

Banjir bandang membawa bukan hanya kayu, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan yang mungkin muncul. Penebangan liar yang berlanjut dianalisis sebagai kontribusi terhadap kerusakan area tersebut.

Meskipun terjadi penambahan sumber daya bagi warga, ada kesadaran akan potensi bahaya bagi ekosistem setempat. Aktivitas pengambilan kayu dan ikan setelah bencana dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih besar.

Warga menunjukkan semangat untuk memanfaatkan sumber daya ini, namun tetap diingatkan akan keseimbangan yang harus dijaga di lingkungan mereka.

Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU