Investigasi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan: Menyusuri Penyimpangan dan Komunikasi yang Buruk
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan bahwa pesawat ATR 42-500 mengalami kebablasan saat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan.
Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ketidakpatuhan pesawat untuk mengikuti jalur pendaratan yang ditentukan menyebabkan insiden tragis ini, di mana pesawat menabrak gunung.
Analisis Penyimpangan Rute
Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Jakarta pada 20 Januari 2026, Soerjanto Tjahjono menjelaskan pentingnya mengikuti jalur pendaratan yang telah ditetapkan.
Pesawat sejatinya diarahkan untuk mendarat melalui runway 21, namun tampak belum mengikuti prosedur yang benar, yakni terbang dari titik Araja menuju poin Openg dan Kabip. Kegagalan dalam mengikuti jalur ini menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko saat pendaratan.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar terkait pelaksanaan prosedur yang harusnya diikuti oleh pesawat dalam setiap penerbangan, terutama saat fase kritis seperti pendaratan.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta Tak Kondusif
Komunikasi Antara Pilot dan Air Traffic Control
Soerjanto juga menekankan esensi dari komunikasi efektif antara pilot dan Air Traffic Control (ATC). Meskipun ATC sudah berusaha mengarahkan pesawat menuju poin Openg, pilot tampaknya tetap tidak mematuhi arahan tersebut.
ATC terus memantau dan berharap pesawat dapat berbelok untuk memotong ILS (Instrument Landing System), namun pesawat telah keluar dari jalur sebelum komunikasi terakhir bisa dilakukan. Hal ini menyoroti tantangan dalam komunikasi di situasi kritis.
Evaluasi terhadap sistem komunikasi menjadi sangat penting untuk menjamin keselamatan penerbangan di Indonesia ke depannya.
Akibat Kecelakaan dan Langkah Selanjutnya
Pesawat ATR 42-500 jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung setelah melewatkan titik-titik penting dalam rute pendaratan. Peristiwa ini tentu saja menuntut perhatian penuh dari pihak Basarnas dan tim penyelamat lainnya.
Proses pencarian dan penanganan kejadian ini menjadi prioritas utama, dengan harapan bisa menemukan korban selamat dari insiden yang memilukan ini.
Dalam pernyataan terakhir, Soerjanto menekankan bahwa investigasi mendetail diperlukan untuk menemukan akar penyebab kesalahan ini dan menetapkan langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Bombastis Menjelang Penutupan Bursa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: