Cuaca buruk menjadi kendala serius dalam usaha pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Menurut Kepala BPBD Makassar, Fadli Tahir, kondisi ekstrem ini sangat memengaruhi proses evakuasi.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Tim SAR gabungan menemui banyak tantangan di medan pegunungan yang sulit dijangkau. Hujan lebat dan kabut tebal membatasi jarak pandang, semakin memperumit misi pencarian.
Detail Operasi Pencarian di Gunung Bulusaraung
Tim pencarian beroperasi di Gunung Bulusaraung, yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Pangkep dan Maros. Sejak hari pertama pencarian, BPBD Kota Makassar bersama instansi terkait telah dikerahkan untuk mendukung upaya ini.
Dalam operasi berskala nasional, BPBD Makassar bertanggung jawab untuk mendirikan posko pencarian serta mengelola laporan dan pemetaan temuan. Keterlibatan berbagai instansi sangat krusial untuk mempercepat proses evakuasi meski cuaca tidak bersahabat.
Meskipun berbagai upaya sudah dilakukan, cuaca yang tidak mendukung tetap menjadi penghambat utama. Hujan deras dan kabut tebal membuat mobilisasi tim menjadi sangat terhambat.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Medan Berat yang Dihadapi Tim SAR
Tim SAR harus menghadapi medan terjal dan berkabut yang membutuhkan peralatan khusus untuk evakuasi. Fadli mengungkapkan, 'Kondisi medan yang terjal dan berkabut membuat proses evakuasi memerlukan peralatan khusus, seperti mountaineering dan climbing.'
Ketersediaan peralatan yang tepat sangat diperlukan untuk pelaksanaan tugas di lapangan. Tim SAR terus beradaptasi dengan tantangan yang ada untuk memastikan keselamatan saat melakukan pencarian.
Meskipun berbagai alat pendukung telah dikerahkan, akses yang sulit dan kondisi cuaca yang tidak menentu mengakibatkan pelaksanaan kegiatan ini terhambat.
Informasi Terkini Mengenai Pesawat yang Hilang
Pesawat ATR 42-500 yang berangkat dari Yogyakarta menuju Makassar dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, di perairan Kabupaten Maros. Data terakhir menunjukkan bahwa pesawat terpantau pada pukul 13.17 WITA.
Badan SAR Nasional Makassar segera beraksi dengan mengirim tim ke lokasi berdasarkan koordinat dari AirNav. Fokus utama mereka adalah untuk mengecek kondisi pesawat dan menentukan lokasi yang tepat.
Andi Sultan, Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, menjelaskan, 'Sortir pertama untuk melakukan asesmen ke lokasi dan juga lima orang, dan diberangkatkan lagi 15 orang yang kedua.'
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: