Perasaan diawasi di ruang publik kini menjadi sesuatu yang umum dialami banyak orang, dan bukan tanpa alasan. Fenomena ini berkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan dinamika sosial yang terus berubah.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Kemajuan dalam teknologi pengawasan, seperti kamera dan aplikasi pelacak, menambah kekhawatiran masyarakat akan privasi. Hal ini mendorong orang untuk berreflective tentang ketidaknyamanan yang mereka alami di berbagai tempat.
Teknologi Pengawasan dan Dampaknya
Perkembangan pesat teknologi pengawasan, termasuk CCTV dan perangkat mobile, telah mengatur ulang interaksi kita dengan ruang publik. Data menunjukkan bahwa sekitar 80% kota besar di seluruh dunia dilengkapi dengan sistem pengawasan, menciptakan perasaan setiap langkah kita tertangkap.
Persepsi bahwa seseorang mungkin selalu diawasi membuat banyak orang merasa tidak bebas beraktivitas. Sebuah studi mengemukakan bahwa 60% orang dewasa merasa tertekan ketika berada di area publik dengan banyak kamera.
Selain itu, penggunaan aplikasi yang mengumpulkan data pengguna juga berkontribusi signifikan terhadap rasa diawasi. Ketika individu membagikan lokasi atau aktivitas mereka secara daring, mereka secara tidak langsung memperbolehkan orang lain untuk mengikuti jejak yang mereka buat.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens
Pengaruh Lingkungan Sosial dan Budaya
Lingkungan sosial dan budaya juga memegang peranan penting dalam meningkatkan perasaan diawasi. Dalam beberapa budaya, ada norma sosial yang mengharuskan individu merasa diperhatikan oleh orang lain dalam komunitas mereka, menciptakan kecemasan tambahan di tempat-waktu tersebut.
Sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar 70% responden merasa bahwa lingkungan mereka mengawasi perilaku sehari-hari, mendorong perilaku sesuai dengan norma kelompok. Rasa tertekan ini sering kali mengurangi kenyamanan individu saat berinteraksi dengan orang lain.
Karenanya, banyak orang merasa terpaksa menampilkan citra tertentu di depan teman-teman atau kenalan mereka, yang membuat pengalaman mereka di ruang publik terasa lebih terbatasi.
Psikologi di Balik Rasa Diawasi
Rasa diawasi dapat memiliki akar psikologis dalam bentuk kecemasan atau paranoia. Menurut pandangan para ahli, perasaan ini sering kali muncul dari pengalaman buruk sebelumnya atau ketidakpastian yang bisa dianggap sebagai ancaman.
Lingkungan ini menciptakan siklus di mana individu semakin merasa diawasi dan mereduksi beberapa perilaku mereka, sehingga menciptakan pengalaman yang lebih tidak nyaman. Mereka yang merasa kurang aman dalam konteks sosial cenderung lebih peka terhadap pengawasan di sekitar mereka.
Teori lain menyatakan bahwa ketidaknyamanan bisa meningkat ketika individu berada di sekitar orang asing, terutama para individu yang cenderung menginternalisasi pandangan orang lain.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Lille, Klub Bintang Prancis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: