Banyak orang tua tidak menyadari bahwa metode pembesaran yang mereka terapkan dapat memiliki dampak buruk bagi perkembangan anak. Kesalahan dalam pola asuh ini berpotensi mengganggu aspek psikologis dan sosial si anak.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Salah satu masalah yang sering terabaikan adalah kurangnya komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Hal ini sering mengakibatkan ketidakpuasan, kebingungan, dan jarak emosional yang semakin melebar.
Kurangnya Komunikasi Efektif
Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak merupakan fondasi penting dalam hubungan mereka. Namun, banyak orang tua terjebak dalam rutinitas sehari-hari dan mengabaikan waktu untuk berdialog dengan anak.
Psikolog anak menyatakan, 'Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat.' Ketika orang tua tidak mendengar curahan hati anak, hal ini dapat menambah jurang emosional di antara mereka.
Akibatnya, anak bisa merasa diabaikan, yang dapat berdampak pada kepercayaan diri mereka di masa mendatang.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual yang Mengubah Pengalaman Menonton
Terlalu Mengontrol Perilaku Anak
Keinginan untuk melindungi anak dari kesalahan terkadang membuat orang tua bersikap sangat mengontrol. Namun, pendekatan ini dapat membuat anak merasa tertekan dan kehilangan kebebasan untuk mengekspresikan diri.
Dr. Maria Hartono, seorang pakar psikologi, menjelaskan, 'Orang tua harus menemukan keseimbangan antara memberikan arahan dan membiarkan anak mengambil keputusan sendiri.' Tanpa kesempatan untuk membuat pilihan, anak mungkin mengalami ketergantungan berlebihan terhadap orang tua.
Hal ini selanjutnya dapat memengaruhi perkembangan rasa percaya diri dan kemandirian si anak.
Kurangnya Pujian dan Penghargaan
Menghargai pencapaian anak merupakan bagian penting dari pola asuh yang sehat. Sayangnya, banyak orang tua yang lupa untuk memberikan pujian pada anak ketika mereka mencapai sesuatu, apapun bentuk pencapaian tersebut.
Penelitian dari Universitas Indonesia menunjukkan, 'Anak yang sering mendapat pujian cenderung lebih percaya diri dan berprestasi baik di sekolah.' Tidak adanya pengakuan dapat membuat anak merasa usahanya tidak berarti.
Hal ini dapat mengakibatkan anak kehilangan semangat untuk berprestasi di masa depan, karena mereka merasa segala usaha yang dilakukan tidak pernah dianggap penting.
Baca juga: Aliansi BEM SI Siapkan Aksi Unjuk Rasa Besar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: