Kelahiran prematur adalah salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir di seluruh dunia, seperti dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam upaya mengatasi masalah ini, para dokter sedang merintis pengembangan rahim buatan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup bayi yang lahir terlalu dini.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Rahim buatan ini dirancang meniru kondisi alami dalam tubuh ibu, khususnya untuk bayi yang lahir pada usia kehamilan antara 24 hingga 28 minggu. Di Indonesia sendiri, kelahiran prematur mencapai sekitar 675.700 kasus setiap tahun, menandakan perlunya solusi inovatif dalam bidang ini.
Risiko Komplikasi pada Bayi Prematur
Bayi yang lahir prematur berisiko tinggi terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk kematian akibat komplikasi seperti gangguan pernapasan dan infeksi. Mereka sering mengalami cadangan nutrisi yang rendah dan sistem tubuh yang belum sepenuhnya matang.
Dengan semakin awalnya kelahiran, risiko komplikasi dan mortalitas juga semakin meningkat. Indonesia menduduki peringkat kelima dunia untuk angka kelahiran prematur, menunjukkan perlunya solusi yang efektif untuk mendukung bayi-bayi tersebut.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil
Inovasi Rahim Buatan dan Metodologi Penelitiannya
Perangkat rahim buatan bernama AquaWomb dikembangkan oleh tim dokter spesialis neonatologi di Rumah Sakit Universitas Radboud Nijmegen, Belanda. AquaWomb adalah kantong tertutup yang berisi cairan ketuban buatan yang dipanaskan, yang memungkinkan bayi terhubung dengan plasenta buatan untuk mendapatkan oksigen dan nutrisi.
Myrthe van der Ven, salah satu pendiri AquaWomb, menjelaskan, 'Kami ingin mempertahankan fisiologi janin, sirkulasi janin, kami ingin menjaganya tetap utuh… sehingga janin dapat berkembang beberapa minggu lagi.' Penelitian menunjukkan bahwa tambahan empat minggu perkembangan dapat secara signifikan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bayi prematur.
Proses Kelahiran dan Implikasinya
Melahirkan bayi melalui operasi caesar menjadi syarat utama untuk menggunakan rahim buatan ini. Setelah operasi, bayi langsung akan dimasukkan ke dalam kantong AquaWomb untuk menghindari paparan udara yang dapat merusak paru-paru.
Willem de Boode, seorang dokter anak-neonatolog, menekankan pentingnya mencegah timbulnya pernapasan spontan, sehingga bayi tidak mulai bernapas dengan udara tetapi tetap berada dalam cairan amnion buatan. Setelah itu, bayi perlu segera dihubungkan ke plasenta buatan untuk mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi.
Baca juga: Keamanan dan Kelezatan Lari Malam: Panduan untuk Olahragawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: