Selasa, 09 DESEMBER 2025 • 11:35 WIB

Lonjakan Kasus Sifilis di Indonesia: Apa yang Perlu Diketahui?

Author

Lonjakan Kasus Sifilis di Indonesia: Apa yang Perlu Diketahui?

Penyakit raja singa, atau sifilis, menjadi sorotan serius di Indonesia dengan peningkatan jumlah kasus yang signifikan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat lebih dari 23 ribu kasus sifilis sepanjang tahun 2024.

Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat

Angka ini mencerminkan tingginya penyebaran penyakit tersebut, yang menyentuh semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang merasa telah menjaga diri dari perilaku berisiko.

Penyebab dan Cara Penularan Sifilis

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, yang merupakan infeksi menular seksual. Namun, infeksi ini dapat terjadi tanpa disadari dan tidak hanya melalui perilaku seksual berisiko.

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa sifilis tidak memilih-milih, dengan penyataan, 'Sifilis gak pilih-pilih. Yang gak 'nakal' pun bisa kena.' Ini memperjelas bahwa siapa pun dapat terinfeksi, termasuk mereka yang tidak aktif secara seksual.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual yang Mengubah Pengalaman Menonton

Gejala dan Dampak Sifilis

Gejala sifilis dapat bervariasi bergantung pada tahapan infeksi. Pada sifilis primer, tanda awal yang muncul adalah luka kecil di tempat bakteri masuk, biasanya terjadi sepuluh hingga sembilan puluh hari setelah terpapar.

Di tahap sifilis sekunder, setelah beberapa minggu, luka tersebut mungkin menghilang, tetapi pasien dapat mengalami ruam pada telapak tangan dan kaki. Terdapat juga fase laten di mana gejala tidak terlihat selama bertahun-tahun, meskipun bakteri tetap hidup di dalam tubuh dan dapat menularkan infeksi.

Dampak jangka panjang dari sifilis sangat serius, dapat menyebabkan gangguan permanen pada organ tubuh seperti otak dan jantung.

Pentingnya Kewaspadaan dan Penanganan

Kementerian Kesehatan menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit ini. Hindari pemeriksaan kesehatan dapat meningkatkan risiko penularan dan komplikasi serius.

Kementerian Kesehatan mengingatkan tentang pentingnya kesadaran dan edukasi seputar penyakit ini, 'Karena itu, jangan cuma jaga image. Jaga kesehatanmu juga.' Pernyataan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih proaktif dalam menjaga kesehatan seksual masyarakat.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU