BRIN melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) baru-baru ini memaparkan kemajuan teknologi nuklir dalam mengatasi masalah sampah plastik di NUTEC Plastics 2025 yang berlangsung di Manila, Filipina.
Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Forum ini menyoroti pentingnya penggunaan teknik analisis nuklir untuk daur ulang plastik dan pemantauan mikroplastik laut.
Inovasi Teknologi untuk Penanganan Sampah Plastik
Dalam forum NUTEC Plastics, Kepala ORTN BRIN Syaiful Bakhri menekankan komitmen Indonesia untuk memberikan solusi berbasis sains dalam menghadapi pencemaran plastik.
"Sebagai salah satu negara percontohan, Indonesia berkomitmen menghadirkan inovasi yang nyata dan berdampak," ujar Syaiful, menggambarkan upaya-upaya yang telah dilakukan.
Indonesia juga telah berhasil mengembangkan compatibilizer dari sampah plastik daur ulang yang telah mencapai tahap prototipe skala teknis atau Technology Readiness Level (TRL) 5.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing
Pendekatan Utama dalam Pengelolaan Mikroplastik
Syaiful menjabarkan dua pendekatan utama dalam forum ini: daur ulang plastik berbasis radiasi dan pemantauan mikroplastik laut menggunakan teknik analisis nuklir.
"Daur ulang plastik berbasis radiasi memungkinkan limbah plastik diubah menjadi material industri bernilai tambah," cetus Syaiful, menegaskan pentingnya langkah ini dalam menghadapi polusi plastik.
NUTEC Plastics, dengan dukungan IAEA, juga melibatkan 53 negara dalam program daur ulang dan 102 negara dalam pemantauan mikroplastik laut.
Kerja Sama Internasional dan Tantangan yang Dihadapi
Indonesia bekerja sama dengan beberapa negara seperti Argentina, Malaysia, dan Filipina untuk mendemonstrasikan teknologi pengelolaan sampah plastik ke skala industri percontohan.
"IAEA menyediakan perangkat analitis untuk menilai sirkularitas plastik dan tingkat kematangan teknologi," jelas Syaiful, menunjukkan perlunya dukungan internasional.
Meski ada langkah signifikan, beberapa tantangan seperti biaya sampling tinggi dan kompleksitas proses analisis masih menjadi kendala dalam pelaksanaan program yang direncanakan ke tahap II (2026–2029).
Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: