Fenomena menarik di bidang psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih mengingat kenangan buruk dibandingkan kenangan bahagia. Penyebabnya berkaitan dengan cara otak kita mengolah emosi dan memori yang memiliki dampak mendalam.
Baca juga: Menggali Konsep Self Love: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Kehidupan Sehari-hari
Penelitian mengindikasikan bahwa kenangan negatif memiliki kekuatan yang lebih besar dan lebih bertahan lama dalam ingatan kita. Hal ini mengarah pada pengertian bahwa pengalaman emosional memainkan peran penting dalam pembentukan memori.
Pengaruh Emosi Terhadap Memori
Emosi yang kuat seperti kesedihan atau kemarahan dapat memperkuat ingatan kita akan peristiwa tertentu. Dalam studi psikologi, diketahui bahwa pengalaman emosional cenderung diingat lebih baik karena otak kita memberikan perhatian lebih pada peristiwa yang menciptakan reaksi emosional yang mendalam.
Ketika terjadi kehilangan, baik itu kehilangan pekerjaan atau kehilangan orang tercinta, individu mendalami pengalaman tersebut. Hal ini memicu pelepasan hormon stres yang meningkatkan tajamnya pengingatan akan detail-detail dari peristiwa itu.
Sebaliknya, kenangan bahagia yang kurang emosional sering kali tidak diingat dengan jelas. Momen-momen yang membawa kebahagiaan, meskipun bermakna, sering tersimpan dalam ingatan dengan cara yang lebih kabur.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi WFH untuk ASN, Sarankan Gunakan Transportasi Umum
Konstruksi Kenangan
Proses penyimpanan kenangan berbeda dari penyimpanan file dalam komputer; kenangan lebih mirip rekaman yang bisa diputar ulang. Kenangan buruk sering kali direkonstruksi di dalam pikiran, sehingga saat mengingatnya, kita kembali dihadapkan pada emosi saat itu.
Menurut Dr. Elizabeth Loftus, seorang ahli psikologi, kenangan dapat dimanipulasi dan berubah seiring waktu. Pemikiran berulang terhadap kenangan buruk dapat memperkuat memori, menjadikannya lebih tertanam dalam ingatan.
Contrarily, kenangan bahagia menjadi samar seiring berjalannya waktu jika tidak dirasakan atau diingat secara berkala. Kenangan positif sering kali memerlukan konteks tertentu untuk dapat diingat dengan jelas.
Dampak Sosial dan Budaya
Budaya turut mempengaruhi cara manusia memproses kenangan. Dalam banyak budaya, pengalaman negatif sering dipandang sebagai pelajaran berharga, sehingga kenangan buruk diperlakukan lebih serius.
Pendekatan ini membuat individu cenderung lebih fokus pada pelajaran dari pengalaman buruk daripada merayakan peristiwa bahagia. Dalam konteks pendidikan, misalnya, orang sering diingatkan untuk belajar dari kesalahan.
Akibatnya, baik individu maupun komunitas dapat mengekstrak lebih banyak pelajaran dari kenangan buruk dibandingkan dengan yang baik, yang pada gilirannya berkontribusi pada ingatan kolektif tentang pengalaman sulit.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Bombastis Menjelang Penutupan Bursa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: