Kamis, 20 NOVEMBER 2025 • 19:21 WIB

Letusan Gunung Semeru: Memori Bencana yang Tak Terlupakan

Author

Letusan Gunung Semeru: Memori Bencana yang Tak Terlupakan

Gunung Semeru di Jawa Timur kembali meletus dengan dahsyat pada Rabu (19/11/2025), memuntahkan awan panas hingga mencapai ketinggian 5,5 kilometer. Ribuan warga melakukan evakuasi ke zona aman untuk menghindari risiko bencana lebih lanjut.

Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam kembali terungkap, mengingat sejarah letusan Gunung Semeru yang pernah merenggut banyak nyawa, termasuk tragedi dahsyat pada tahun 1909.

Sejarah Letusan Gunung Semeru

Sejak letusan pertamanya yang tercatat pada tahun 1818, Gunung Semeru menunjukkan aktivitas vulkanik yang mengkhawatirkan. Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi pada 29-30 Agustus 1909, di mana bencana tersebut menyebabkan banyak korban jiwa.

Gejala letusan pada tahun 1909 muncul sejak Juni, dengan tanda-tanda seperti asap pekat dan gempa vulkanis. Namun, warga tidak menyangka bahwa tanda-tanda ini akan berujung pada bencana yang menewaskan ratusan orang.

Koran De Locomotief, dalam laporannya, mencatat bahwa letusan menghasilkan semburan abu dan material vulkanik yang menghancurkan lereng serta lembah di sekitarnya. Laporan tersebut menegaskan bahwa 'semua yang dihancurkan,' menandakan skala kerusakannya yang luas.

Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan

Dampak Kemanusiaan dan Lingkungan

Aliran lahar yang tercampur dengan air, kerikil, dan abu mengalir dengan cepat, menerjang wilayah di sekitar gunung. De Locomotief menggambarkan situasi ini menyerupai fenomena tsunami, yang meningkatkan kesedihan dan kepanikan warga.

Sumber lain, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, mencatat bahwa ribuan hektare lahan pertanian terkubur oleh material vulkanik, dan banyak hewan ternak mati. Jaringan air untuk pertanian juga dilaporkan mengalami kerusakan signifikan.

Hingga bulan Oktober 1909, sekitar 709 orang dilaporkan tewas atau hilang, dengan ribuan lainnya mengalami cedera parah. Kerugian ekonomi di kalangan petani dan penduduk setempat diperkirakan mencapai ribuan dollar AS.

Respon dan Bantuan Pasca-Bencana

Situasi di daerah terdampak pasca-letusan sangat mengkhawatirkan, dengan banyak warga enggan kembali ke rumah mereka. Berbagai upaya pengumpulan dana dan bantuan dari masyarakat di Hindia Belanda dilakukan untuk membantu pemulihan.

Dari Batavia, masyarakat berhasil mengumpulkan sekitar 2.000 gulden, sementara pengusaha lokal mengirimkan bantuan langsung ke lokasi terdampak. Berbagai inisiatif, seperti lelang untuk penggalangan dana, juga dilaksanakan.

Meskipun upaya pengumpulan dana telah dilakukan, proses pemulihan masih berlangsung lama, memerlukan waktu sekitar enam bulan sebelum kehidupan warga kembali normal. Pengalaman ini menyoroti kebutuhan mendesak akan mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta Tak Kondusif

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU