Fenomena burnout di kalangan anak muda kini menjadi isu serius yang patut dicermati. Banyak dari mereka merasa kehabisan tenaga dan motivasi meskipun masih dalam usia produktif.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Tekanan yang datang dari lingkungan kerja dan sosial, serta ekspektasi yang tinggi, membuat mereka merasa terjebak dalam rutinitas yang melelahkan.
Tekanan dari Lingkungan Sosial
Anak muda saat ini hidup dalam era media sosial yang memunculkan banyak ekspektasi. Mereka merasa harus selalu tampil sempurna, baik dalam karir maupun kehidupan pribadi.
Tekanan ini sering menghasilkan stres berkepanjangan yang dapat berujung pada burnout. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga memperburuk kondisi mental mereka.
Faktanya, survei terbaru mengungkapkan bahwa lebih dari 50% remaja merasa tertekan akibat perbandingan sosial di platform digital. Ini berkontribusi besar pada penurunan kesehatan mental.
Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Tuntutan di Dunia Kerja
Mencari pekerjaan yang ideal semakin sulit, dan banyak anak muda terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion mereka. Tuntutan untuk berprestasi dan mencapai target dalam waktu singkat dapat menjadi beban yang berat.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik, sekitar 40% pekerja muda mengalami tekanan mental terkait pekerjaan. Situasi ini semakin buruk dengan jam kerja yang panjang dan kurangnya waktu untuk beristirahat.
Beberapa perusahaan mulai memperhatikan kesejahteraan karyawan, namun masih banyak yang mengabaikan pentingnya memberikan waktu istirahat yang seimbang.
Kurangnya Dukungan Mental
Dukungan dari teman dan keluarga adalah hal yang penting bagi anak muda untuk menghadapi tekanan. Namun, banyak dari mereka merasakan kesepian dalam perjuangan yang dihadapi.
Menyadari bahwa berbicara tentang kesehatan mental bukanlah hal yang tabu sangatlah penting. Sayangnya, stigma yang ada seringkali membuat mereka ragu untuk mencari bantuan.
Data menunjukkan bahwa hanya 30% remaja yang merasa nyaman membahas masalah mental mereka dengan orang terdekat. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: